PM Libya Sedang Kebingungan

Kompas.com - 07/03/2012, 07:51 WIB

BENGHAZI, KOMPAS.com — Perdana Menteri interim Libya, Abdel Rahim al-Kib, Senin (5/3/2012), lewat televisi pemerintah berseru. Dia meminta mayoritas warga agar menentang ulah dan sikap para revolusioner palsu. Warga mayoritas diminta melindungi negara.

”Harus ada rasa solidaritas antara pemerintah dan rakyat,” kata Kib, Senin malam. ”Namun, ini semua terletak pada sikap mayoritas untuk melindungi lembaga-lembaga negara, melawan kekacauan, dan mengatakan tidak kepada mereka yang menguasai kekayaan negara dan wilayah, menolak lembaga-lembaga non-negara.”

Kib mengatakan, dia tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah yang baru. Namun, ini semua tergantung pada kesediaan untuk menentang kekacauan yang sedang terjadi di negara.

Seruannya ditujukan kepada mayoritas warga yang tidak bersuara. Sementara itu, di Libya muncul pejuang-pejuang palsu yang mencoba memaksakan hak dan menyatakan diri sebagai pejuang negara, tetapi menguntungkan diri sendiri.

Organisasi pembela hak asasi manusia mengingatkan bahwa milisi-milisi liar saat ini sedang marak di Libya. Milisi-milisi liar ini menjadi ancaman terbesar bagi stabilitas di Libya, yang sedang membangun kelembagaan negara. Berbagai badan di negara ini ambruk di bawah kediktatoran almarhum Moammar Khadafy, yang berkuasa selama 40 tahun lebih.

Banyak situs-situs negara, termasuk bandara di Tripoli, yang berada di bawah kekuasaan brigade revolusioner, yang melawan rezim Khadafy. Pemimpin Libya tersebut tewas pada Oktober 2011.

Kib mengkritik pendaftaran atas lebih dari 140.000 orang yang dikategorikan sebagai pejuang. Dia mengatakan jumlah itu terlalu besar. Karena itu, dia menyerukan kepada para pejuang sejati untuk benar-benar membangun negara dan berbagai kelembagaan.

Menolak federalisme

Dia juga mengumumkan bahwa pemerintah dalam proses pembentukan kantor-kantor di kota Benghazi (Libya timur) dan Sabha (Libya selatan), yang membantu pelayanan terhadap warga. Dia menolak sistem pemerintahan federal, seperti saat Libya berada di bawah kekuasaan para raja pada dekade 1950-an.

Namun, dia mengatakan pemerintah sedang membahas undang-undang desentralisasi. Seruan ini tidak disambut para politisi di Libya timur. Para pemimpin suku dan politik di Libya timur, Selasa (6/3/2012), berkumpul di Benghazi. Mereka menyatakan kawasan Cyrenaica, yang kaya minyak, sebagai wilayah otonomi.

Kawasan ini terentang mulai dari Sirte, kota pantai di Libya tengah, hingga perbatasan Libya-Mesir. Ahmed Zubair al-Senussi, salah seorang anggota Dewan Transisi Nasional, yang kini memerintah Libya dipilih sebagai pemimpin wilayah.

Sikap para politisi Libya timur ini dikhawatirkan memulihkan sistem pemerintahan federal yang pernah disahkan dalam konstitusi 1951. Sistem ini dijalankan saat Libya dikuasai almarhum Raja Idriss al-Senussi.

Ahmed Zubair al-Senussi adalah anggota keluarga dari almarhum Idriss al-Senussi. Ahmed Zubair adalah orang yang pernah berada paling lama dalam tahanan politik di bawah kekuasaan Khadafy.

(AFP/AP/REUTERS/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau