Dua Bocah Busung Lapar Hidup dalam Sangkar

Kompas.com - 07/03/2012, 11:49 WIB

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Dua bocah yang diduga menderita busung lapar di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tak hanya kekurangan gizi lantaran keluarganya tak mampu memberi asupan makanan yang cukup. Bocah-bocah bernama Sahrul (7) dan Sahril (5) ini juga harus merajut derita panjang dalam sangkar berukuran 1 x 1,5 meter di salah satu pojok rumahnya.

Nurhayati yang tak lain adalah bibi kedua bocah yang merawat sejak kecil terpaksa mengurung keponakannya dalam "sangkar" yang tak layak huni ini lantaran tak ada yang menjaga di rumah saat ia berjualan subuh hari di pasar. "Sangkar" berukuran 1 x 1,5 meter itu terletak di salah satu pojok rumah milik Nurhayati di Kelurahan Lantora, Polewali Mandar.

Di tempat itulah Sahril dan Sahrul menghabiskan hari sampai Nurhayati pulang dari pasar pada siang hari. Selama pagi hingga siang hari, Nurhayati yang sibuk berjualan tentu saja tak bisa mengurus keperluan Sahrul dan Sahril, termasuk ketika kedua bocah ini sedang kelaparan dan berlumuran kotorannya sendiri di kurungan karena tak ada yang mengurusnya. Keduanya baru bisa makan setelah Nurhayati pulang.

Meski kondisi kedua anak tersebut memperihatinkan, Nurhayati tak tahu harus berbuat apa. Sebab, libur sehari berjualan sayur-mayur di pasar, berarti Nurhayati harus menambah daftar utang ke tetangga atau sahabat yang bersedia memberi pinjaman. Apalagi, Nurhayati masih harus membayar cicilan pinjaman bank setiap hari. Uang senilai Rp 5 juta yang dipinjam dari bank untuk biaya hidup keluarganya harus dicicil selama beberapa tahun agar bisa lunas.

Harapan mendapatkan bantuan raskin murah dari pemerintah tak bisa diharap banyak. Meski Nurhayati berhak mendapatkan beras raskin 15 liter per KK setiap bulan seperti yang diatur pemerintah, kenyataannya ia mengaku hanya mendapat jatah beras 3 liter dari kelurahan setempat. Itu pun tidak rutin setiap bulan.

Dinas sosial setempat tak pernah melirik keluarga Sahril dan Sahrul yang hidup dalam serba kekurangan. Jangankan memberi bantuan sosial, menjenguk kondisi kedua bocah dan keluarganya pun luput dari perhatian petugas. Nurhayati kini mulai dihinggapi rasa frustrasi. Selain karena stres dan harus membanting tulang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, dia juga harus sibuk mengurus dua ponakannya yang belum tahu dan mengerti apa-apa ini.

Kesengsaraan Nurhayati dan dua bocah busung lapar itu memang sempat mendapat perhatian pemerintah dan polititisi setempat menjelang pilkada. Satu per satu politisi pun datang menyodorkan sekarung beras atau bantuan apa saja sebagai tanda kepedulian mereka. Namun, seusai pilkada, nasib keluarga Nurhayati luput dari perhatian.

Para tetangga sebetulnya tahu dan prihatin dengan kondisi kehidupan keluarga Sahril dan Sahrul. Namun, karena mayoritas berpendapatan rendah mereka pun hanya bisa turut prihatin dan meminta bantuan orang lain yang bersedia membantu keluarga tak mampu ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau