Kriminalitas

Mayat Misterius di Selokan Pinggir Rel

Kompas.com - 08/03/2012, 03:15 WIB

Pagi itu, Rabu (7/3), Agus (26) bekerja seperti biasa. Dia menyisir jalur kereta di Jalan Tentara Pelajar, Jakarta Pusat, untuk membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sisi rel.

Sekitar pukul 10.30, dia melihat sesosok pria di selokan di pinggir rel. Merasa penasaran, Agus menghampiri lokasi itu. Dia begitu terperanjat ketika mengetahui ada mayat di selokan.

”Saya kaget begitu lihat mayat. Tapi, saya nggak berani ngapa-ngapain. Saya kasih tahu (petugas) satpam stasiun, ada mayat di selokan,” papar Agus.

Setelah memastikan ada mayat yang separuh badannya terendam air selokan, petugas satpam langsung melapor kepada polisi.

Daerah yang biasanya sepi dan hanya menjadi pelintasan kendaraan itu mendadak ramai dikerubungi orang. Mereka penasaran dengan sosok misterius yang berkubang lumpur itu.

Kendati ramai orang yang mengelilingi lokasi kejadian, tidak ada seorang pun yang mengenali pria itu. Polisi dari Polsek Tanah Abang juga kesulitan mengidentifikasi korban karena tidak ada sepotong tanda pengenal pun tersimpan di tubuh atau pakaian jenazah ini.

Setelah melakukan olah tempat kejadian, pria misterius itu dilarikan ke kamar jenazah RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Penyebab masih gelap

Hingga kemarin sore, belum ada titik terang mengenai kematian pria yang mengenakan kaus biru, celana pendek berwarna merah, dan tanpa alas kaki. Di RSCM belum ada keluarga yang mencari kerabatnya yang hilang. Polsek Tanah Abang juga belum menerima laporan kehilangan anggota keluarga.

Petunjuk di lokasi kejadian terbilang minim. Tidak ada barang atau alat yang tercecer untuk memberi tanda. Bekas darah tidak terlihat, baik di jalan, sekitar selokan, maupun di rel. Sementara itu, di seputar mulut dan hidung korban tersisa bekas darah. Polisi juga menemukan belatung yang keluar dari sekitar mulut dan hidung korban. Selain itu, telinga kanan pria berkulit sawo matang itu juga mengeluarkan darah.

Berbeda dengan korban tertabrak kereta, kondisi fisik jasad pria misterius ini tidak hancur. ”Hanya tengkorak kepala sebelah kiri remuk,” ucap Kepala Subunit I Reserse Kriminal Polres Tanah Abang Inspektur Satu Bambang.

Selain dahi yang juga memar, tulang tangan kiri pria ini juga patah. Satu gigi bagian bawah pun patah. Namun, kondisi fisik ini belum bisa menyimpulkan bagaimana pria berambut cepak ini sampai meninggal.

Polisi juga belum menemukan saksi-saksi yang melihat langsung kejadian ini. Lokasi di sekitar tempat jenazah ditemukan itu memang tergolong sepi, terutama pada malam hari. Satu-dua pedagang yang membuka lapak kecil di sekitarnya sudah tidak berjualan setelah pukul 22.00.

Jalan Tentara Pelajar menuju Jalan Arteri Permata Hijau ini umumnya menjadi pelintasan kendaraan saja. Selain itu, kereta masih tetap melintas hingga malam. Lokasi kejadian berjarak sekitar 100 meter dari Stasiun Palmerah.

Ada sejumlah spekulasi mengenai kematian pria ini. Ada yang mengatakan korban dilempar dari kereta yang berjalan. Dugaan lain memprediksikan pria tersebut dibawa dengan mobil dan dibuang di selokan.

Bambang belum bisa memastikan penyebab kematian pria itu. Namun, penyebab pria bertinggi sekitar 160 sentimeter itu meninggal karena sakit agaknya sulit diterima mengingat ada sejumlah luka di tubuh korban.

Juru parkir dibunuh

Sehari sebelumnya, Selasa pukul 04.00, sesosok mayat pria ditemukan di Jalan Hayam Wuruk, dekat persimpangan Ketapang. Pria yang diketahui bernama Ali Alamsyah (55) itu diduga korban pembunuhan.

Dari hasil visum et repertum, Ali mengalami luka di bagian kepala, tangan kanan, dan tangan kiri. Terdapat sayatan di atas kemaluannya.

Kepala Polsek Metropolitan Taman Sari Ajun Komisaris Besar Wong Niti Hartonegoro mengatakan, kecil kemungkinan Ali merupakan korban perampokan.

”Sepertinya dia baru pulang dari kerja. Melihat luka-lukanya, kami menduga kecil kemungkinan dia menjadi korban perampokan. Namun, motifnya apa, kronologi kejadiannya seperti apa, kami masih menyelidiki, belum bisa mengambil kesimpulan apa-apa,” katanya.

Tidak ada barang-barang milik korban yang hilang. Korban diketahui sebagai seorang juru parkir. Dia adalah warga Jalan Muara Baru, RT 19 RW 17 Penjaringan, Jakarta Utara.

(FRANSISCA ROMANA/ AGNES RITA SULISTYAWATY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau