Bencana

Empat Turap Kali di Depok Longsor

Kompas.com - 08/03/2012, 03:18 WIB

Depok, Kompas - Empat turap kali longsor dalam sebulan ini di wilayah Depok, Jawa Barat. Longsor terakhir terjadi di turap Kali Krukut, Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas. Tiga bangunan mengalami kerusakan, satu di antaranya hancur total. Longsor terjadi karena tebing turap tidak dapat menahan beban bangunan di sisinya.

Sebelumnya, turap Kali Ciliwung di Kecamatan Cilodong, turap Kali Angke di Kecamatan Bojongsari, dan turap kali Jantung di Kecamatan Sukmajaya juga longsor.

Meskipun tidak ada korban jiwa, longsor ini merusak saluran irigasi, membuka peluang banjir karena terjadinya pendangkalan kali, dan merusak bangunan di sempadan sungai.

”Longsor terjadi karena arus kali yang deras, sementara turap penahan tebing tidak kuat. Terlebih lagi ada bangunan yang berada di atas tebing turap,” ujar Sadar, Kepala Satuan Tugas Banjir Depok, Rabu (7/3), di Depok.

Longsor di turap Kali Krukut sempat membuat warga cemas. Sebab, semua material turap menutupi badan kali. Runtuhan turap itu membuat aliran air kali terhambat.

Sesaat setelah turap ambrol, Selasa pukul 23.00, warga Kelurahan Pancoran Mas membongkar sendiri material di badan sungai. Sebab, posisi air sudah di ambang batas banjir di sekitar permukiman warga.

Sekretaris RW 20 Kelurahan Pancoran Mas Iser Lal mengatakan, turap tersebut pernah ambrol pada tahun 2000. Setelah diperbaiki malah ada bangunan yang berdiri di tebing turap.

”Bangunan yang berdiri persis di tebing turap itu tidak berizin. Saya sendiri jadi heran mengapa bangunan itu bisa berdiri di sana, ya,” kata Iser Lal.

Ciliwung

Sementara di sempadan Kali Ciliwung di Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, dalam sebulan terakhir ini sudah terjadi tiga kali longsor. Longsor itu terjadi di dua titik berbeda yang terpisah jarak sekitar 200 meter. Longsor terparah terjadi di RT 04 RW 08 Kelurahan Kalimulya. Lokasi longsor hanya berjarak sekitar 5 meter dari permukiman warga.

”Longsor di sini terjadi karena saluran air terlalu kecil. Dengan demikian, pada saat hujan lebat tidak mampu menampung aliran air yang banyak sehingga jadi jebol. Kami tidak tenang sebab lokasi longsor berada di belakang dapur rumah,” tutur Nyai Sainah (40), warga RT 04 RW 08 Kelurahan Kalimulya, Minggu.

Lokasi longsor merupakan tempat pembuangan air di area Perumahan Taman Anyelir 3 yang sedang dalam pembangunan. Saluran pembuangan di tempat itu hanya satu lubang dengan diameter 0,5 meter.

Drainase dari bahan semen itu jatuh ke dasar sempadan. Adapun lokasi longsor di titik terjadi sepanjang sekitar 30 meter dengan kedalaman maksimal sekitar 20 meter.

Menanggapi longsor di area ini, Pemerintah Kota Depok menerbitkan surat penghentian aktivitas pengurukan sempadan oleh pengembang Perumahan Taman Anyelir 3. Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Depok Yayan Ariatna mengatakan, pengembang belum melakukan kewajibannya menjaga sempadan sungai.

Pemerintah Kota Depok sebelumnya sudah menerbitkan surat peringatan pertama dan kedua, tetapi sempadan belum juga diperbaiki.

”Seharusnya pengurukan tanah dilakukan dengan memperhatikan kekuatan tebing sempadan. Dengan demikian, tidak membahayakan warga sekitar. Saya rekomendasikan izin proyek mereka dicabut,” kata Yayan. (NDY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau