50 Anak Yatim Piatu Korut Lari ke China

Kompas.com - 08/03/2012, 14:41 WIB

SEOUL, KOMPAS.com — Sebanyak 50 anak yatim piatu Korea Utara bersembunyi di China, setelah melarikan diri dari negerinya, kata seorang anggota legislatif Korea Selatan yang terlibat dalam aksi untuk membantu para pengungsi semacam itu, Kamis (8/3/2012).

Anak-anak dari tempat penampungan yatim piatu di kota perbatasan di bagian timur laut Korea Utara, Hyesan, menyeberangi perbatasan pada 29 Februari, kata Park Sun-young dari Partai Kebebasan Maju, yang berhaluan konservatif dan beroposisi terhadap pemerintah, kepada kantor berita Yonhap. "Untungnya, saya tak mendengar mereka tertangkap," kata perempuan politikus itu.

Park memulai mogok makan pada Februari di luar Kedutaan Besar China guna mencela tindakan Beijing memulangkan pengungsi Korea Utara. Ia mengakhiri protesnya Jumat lalu, ketika ia pingsan pada hari ke-11 aksi mogok makannya.

Dari 30 anak yang melarikan diri dari panti yatim piatu yang sama pada Desember, 20 orang ditangkap oleh penjaga perbatasan Korea Utara dan dipukuli. Sementara sisanya belum dikembalikan ke Korea Utara, kata Park.

Park menyatakan, 48 warga negara Korea Utara telah ditahan di China dan menunggu dipulangkan ke Korea Utara. Mereka menghadapi hukuman berat—bahkan hukuman mati—di tanah air mereka, kata para aktivis.

Korea Selatan telah berulang kali mendesak Beijing agar memperlakukan para pelarian dari Korea Utara tersebut sebagai pengungsi dan tidak memulangkan mereka. China menyatakan, mereka adalah migran ekonomi dan bukan pengungsi yang layak diberi perlindungan.

Amnesty International juga telah mendesak Beijing agar tidak memulangkan pelarian dari Korea Utara. Ia menambahkan, pelarian yang dipulangkan dikirim ke kamp kerja paksa, tempat mereka menjadi sasaran penyiksaan.

Lebih dari 21.700 warga negara Korea Utara telah melarikan diri dari negeri mereka sejak Perang Korea tahun 1950-1953. Kebanyakan dari mereka melarikan diri dalam beberapa tahun belakangan. Mereka biasanya melarikan diri dengan jalan kaki ke China, bersembunyi, dan kemudian melakukan perjalanan ke negara ketiga untuk bisa dimukimkan kembali di Korea Selatan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau