Tarif Bus Malang-Surabaya Naik 25 Persen

Kompas.com - 09/03/2012, 10:17 WIB

MALANG, KOMPAS.com - Setelah para sopir angkutan kota (angkot) di Malang Raya (Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang), Jawa Timur, menaikkan tarif jelang dinaikkannya harga bahan bakar minyak (BBM), pengemudi bus jurusan Malang-Surabaya juga menaikkan tarif.

Kenaikan tarif bus oleh awak bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) itu sebesar 25 persen dari tarif sebelumnya. Untuk bus ekonomi, dari yang biasanya Rp 8.000 kini naik menjadi Rp 10.000. Sementara bus patas jurusan yang sama, naik dari Rp 15.000 menjadiRp 20.000.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Muhammad Yusuf, Jumat (9/3/2012), menegaskan, bahwa kenaikan tarif yang dilakukan  oknum pengemudi yang diduga diinstruksikan dari pihak perusahaan bus (PO) adalah ilegal.

"Dari laporan yang kami terima, kenaikan tarif itu sudah berlangsung sepekan yang lalu. Setelah ada rencana kenaikan harga BBM. Yang jelas, sampai saat ini belum ada instruksi resmi dari Pemprov Jatim soal kenaikan tarif bus Malang-Surabaya itu," katanya.

Yusuf menyatakan dia telah menerima beberapa laporan masyarakat mengenai kenaikan tarif bus Malang-Surabaya tersebut. "Secara resmi tidak ada kenaikan. Tapi di lapangan sudah dinaikkan. Langkah tegasnya ada di pihak Pemprov Jatim," tegasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Malang, Nazarudin mengaku sudah menerima laporan dari masyarakat tentang kenaikan tidak resmi tersebut. "Jujur, kami tak bisa berbuat banyak soal kenaikan tarif itu," ujarnya.

Nazarudin beralasan kewenangan sepenuhnya di tangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. "Kami tidak berwenang menaikkan tarif bus. Karena kewenangan kami hanya ada pada angkutan pedesaan," katanya.

Seorang pengemudi bus bernama Munhar (42) yang menolak menyebut perusahaan bus tempatnya bekerja, mengakui bahwa kenaikan itu bukan kebijakan pemerintah. "Tapi itu kebijakan perusahaan kami. Karena sebentar lagi BBM akan naik," katanya kepada Kompas.com.

Saat ini jelas Munhar, BBM sudah mulai langka. Antrean terjadi hampir di semua SPBU. Bahkan tak jarang dia menemukan SPBU yang sudah kehabisan bensin dan solar. "Semua kebutuhan pokok sudah mulai naik. Terpaksa tarif bus juga harus dinaikkan. Jangan kita yang malah disalahkan karena menaikkan tarif bus," kilahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau