Begitu Ruwetnya Penuhi Kebutuhan Rumah Rakyat?

Kompas.com - 09/03/2012, 11:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Faktor egosektoral para pemangku kebijakan mengakibatkan program perumahan bagi rakyat sulit tercapai. Ketika rezim kepemimpinan berganti, maka program yang tengah berlangsung pun lantas terhenti.

"Memang, rasanya sulit menyamakan persepi di negara ini akibat egosentral yang terjadi. Saat berganti rezim, orang menanyakan program 1.000 menara rusunami itu program siapa, ini program Wakil Presiden atau program Presiden. Mengapa harus begitu, bukankah ini program pemerintah untuk rakyat," kata Direktur Utama Perum Perumnas Himawan Arif, dalam acara seminar nasional "Menyikapi Arah Kebijakan Perumahan Nasional" di Jakarta, Kamis (8/3/2012).

Himawan menuturkan, program 1.000 menara rumah susun sederhana milik (rusunami) digulirkan pada 2007 yang ditargetkan selesai pada 2012 ini. Waktu itu, lanjutnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla memerintahkan kepada Perumnas membangun sebanyak 100 tower dengan memakai lahan milik Kementerian Sekretaris Negara di Kemayoran, Jakarta Pusat.

"Waktu itu tanah diberi 26 hektare untuk pembangunan 100 tower. Kementerian juga bekerjasama menyerahkan surat-suratnya. Namun, ketika kepemimpinan berganti, sisa tanah 24 hektare diminta kembali. Kami disuruh pindah lokasi yang padat penduduk. Padahal, untuk melakukan resettlement lahan baru 15 hektare butuh Rp 300 miliar lagi," ujar Himawan.

Akibat hal itu, lanjut dia, dari target 100 tower baru terbangun 2 saja. Perlahan program ini pun berhenti. Menurutnya, selain masalah pergantian rezim, pembangunan rusunami dengan harga jual Rp 144 juta per unit malah membuat siapa pun pembangunnya merugi.

"Pasti yang membangun ini merugi. Tapi, waktu itu kami bangun karena dukungan pemerintah. Kalau mau untung di rusunami itu dibangun pusat komersil, tapi tidak boleh," kata dia.

Program 1.000 menara yang terhenti ini diakui oleh Lukman Hakim, Asisten Deputi Penyediaan Rumah Tapak dan Rumah Susun Kementerian Perumahan Rakyat. Menurutnya, memang ada kesalahan yang harus dibenahi. Tapi, Kemenpera berusaha untuk meneruskan program ini kembali. Saat ini pihaknya, sedang berkonsentrasi pada pengembangan rumah murah dan rumah sejahtera tapak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau