JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina menargetkan penjualan produk petrokimia pada tahun ini mencapai 1,7 juta metrik ton. Hal ini berarti ada peningkatan dibandingkan realisasi penjualan tahun lalu yang sebesar 1,27 juta metrik ton.
Kenaikan penjualan itu terutama akan ditopang oleh penjualan beberapa produk petrokimia seperti Benzene, Paraxylene, Green Coke dan Propylene.
Menurut Wakil Presiden Niaga Petrokimia PT Pertamina Denni Kusumawardhani, dalam temu media, di Kantor Pusat Pertamina, Jumat (9/3/2012), di Jakarta, realisasi penjualan produk-produk petrokimia perseroan itu tahun 2011 sebesar 1,27 juta metrik ton, atau 12 persen di bawah target yang ditetapkan 1,44 juta metrik ton.
Sementara itu, total margin usaha tahun 2011 sebesar Rp 657,3 miliar. Jadi total margin usaha untuk bisnis produk-produk petrokimia Pertamina mencapai 107 persen dari target margin usaha yang ditetapkan sebesar Rp 432,04 miliar. Kenaikan margin usaha itu disebabkan tingginya harga jual produk-produk petrokimia tersebut.
Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina Mochamad Harun menyatakan, secara bisnis, di tahun ini pihaknya juga menargetkan agar produk Aspal unggulan kami (BNA Blend Pertamina) dapat diterima secara teknis untuk kegiatan overlay di Bandara-bandara.
Di sisi lain, Smooth fluid sebagai satu-satunya Oil Base Mud produksi dalam negeri dapat digunakan diseluruh KPS di lingkungan BPMIGAS.
"Dalam tatanan yang lebih besar, tentu saja dengan pembangunan kilang-kilang baru tersebut akan menjadikan Unit Bisnis Petrochemical Trading terus tumbuh menjadi kian besar dan dapat disejajarkan dengan unit bisnis sejenis di perusahaan migas milik negara (NOC) lainnya," kata dia menambahkan.
Untuk produk Aspal dan beberapa produk Aromatic & Olefin seperti Paraxylene, Sulphur, dan Polypropylene yang telah tersalurkan untuk memenuhi kebutuhan domestik, sejauh ini masih mengalami shortage of supply." Petrochemical Trading berusaha memperluas pasar melalui kegiatan niaga dan menjajaki pembangunan kilang petrokimia," kata dia.
Beberapa kendala yang dihadapi antara lain, saat ini pembangunan kilang kita pada umumnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan BBM sehingga produksi produk Petrokimia belum fokus terutama menyangkut specialty atau grade produk sesuai permintaan konsumen.
Selain itu regulasi internal yang masih belum mendukung aktifitas trading secara optimal. Ke depan, lanjut Harun, Pertamina akan makin fokus pada bisnis Petrokimia termasuk dalam hal fleksibilitas pada aktifitas trading serta menjajaki kerjasama sengan pihak ketiga (swasta) mengingat margin bisnis petrokimia sangat menjanjikan.
Adapun kendala lain, khususnya di bisnis Aspal, adalah kapasitas produksi Asapl di Kilang RU IV Cilacap cenderung di bawah kapasitas optimal karena pertimbangan keekonomian kilang, kualitas produk Aspal dari kilang RU IV Cilacap belum dapat diterima secara langsung untuk penggunaan di Jalan Tol dan Bandara, pola seasonal konsumsi aspal dalam negeri yang cenderung mendorong tidak seimbangnya supply dan demand nasional maupun regional.
Unit Bisnis Niaga Petrokimia perseroan itu saat ini memasarkan 43 jenis produk petrokimia.
Produk-produk itu antara lain, Asphalt yang berperan dalam pembangunan sarana transportasi dan bandara, produk Aromatic dan Olefin yang dapat diproses sebagai bahan baku benang sintetis, Polyester, deterjen dan beragam peralatan rumah tangga berbahan plastik termasuk karung dan kantong pelastik.
Selain itu, Pertamina mengusahakan beragam jenis Kondensat dan Solvent untuk bahan baku thinner, lem dan cat, produk wax untuk memproduksi lilin penerangan dan bahan baku kosmetik, Green Coke untuk industri pengecoran logam, Minarex sebagai bahan baku industri rubber dan ban, sampai dengan produk Smoth Fluid 05 yang digunakan dalam pengeboran minyak bumi dan kegiatan lain.
Sumber utama produk-produk Petrochemical ini berasal dari kilang-kilang Pertamina di antaranya adalah RU-II Dumai (produk Green Coke dan Solphy), RU-III Plaju (Polytam, dan Solvent), RU-IV Cilacap (produk Paraxylene, Benzene, Sulphur, Minarex, dan Paraffinic Oil), RU-V Balikpapan (Solvent LAWS 5 dan Smooth Fluid 05), RU-VI Balongan (Propylene), Kilang Cepu (Pertasol), Kilang Mundu, Kilang LPG Brandan, serta kilang LPG mini ex PT Pertamina EP di Subang dan Cemara.
Selain itu, beberapa produk Petrochemical yang kebutuhan dalam negerinya masih relatif besar seperti Aspal, Paraxylene, Sulphur, Wax, Polypropylene dan Polyethylene sebagian produknya juga bersumber dari impor atau melalui kerjasama dengan produsen lain didalam negeri.
Sebagai contoh, penjualan Polypropylene produksi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk atau kerjasama penjualan Kondensat ex PT Perta Samtan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang