Sepak bola

Menang 2-0, Brunei Kubur Impian Indonesia

Kompas.com - 10/03/2012, 01:49 WIB

Bandar Seri Begawan, Kompas - Tim nasional sepak bola Indonesia lagi-lagi gagal memberikan gelar yang diharapkan masyarakat Indonesia. Tampil di partai puncak turnamen Hassanal Bolkiah Trophy di Hassanal Bolkiah National Stadium, Jumat (9/3), tim nasional U-21 Indonesia ditaklukkan tuan rumah Brunei, 0-2.

”Tim Merah Putih” seperti tampil antiklimaks setelah pada partai sebelumnya sukses menekuk Vietnam 2-0. Para pemain juga tampil tidak lepas, seperti terbebani target kemenangan.

Pelatih Kepala Tim U-21 Indonesia Widodo C Putra menegaskan, penggantian tiga pemain yang dilakukan pada babak kedua tidak lain untuk mengatasi ketertinggalan. ”Saya langsung memasukkan tiga ujung tombak sekaligus dengan menggantikan pemain belakang karena saya pikir kalah 2-0, 3-0, atau 4-0 sama saja,” tuturnya.

Sekalipun kalah, baik Widodo maupun Manajer Tim Indonesia Hasrul Azwar merasa puas dengan permainan para pemain. ”Pemain kami kurang pengalaman bertanding dibandingkan pemain Brunei yang sebagian merupakan pemain senior,” kata Hasrul yang juga anggota DPR.

Menpora Andi Mallarangeng yang menyempatkan diri melihat pemain Indonesia di kamar ganti mengingatkan agar tetap berusaha memberikan yang terbaik karena Presiden mengikuti langsung pertandingan yang disiarkan langsung ke Tanah Air.

Widodo menyatakan, ketika di kamar ganti saat turun minum, dirinya sempat memberikan motivasi agar pemain binaannya dapat membuat sejarah bagi diri mereka sendiri ataupun bagi negara. ”Tetapi kita semua tahu apa yang bisa mereka capai. Kalah memang menyakitkan, tetapi inilah hasil terbaik kita kali ini,” tuturnya kepada wartawan Kompas, Korano Nicolash LMS.

Meski turnamen ini hanya level U-21, kekalahan dari Brunei cukup mengejutkan. Terlebih Brunei selama ini dikenal sebagai tim anak bawang di kawasan Asia Tenggara.

Bagi masyarakat Brunei, hasil ini layak dirayakan. Gelar juara ini seperti sebuah lompatan prestasi yang cukup besar. Terlebih asosiasi sepak bola mereka, BAFA, pernah dibekukan FIFA selama dua tahun. Ini juga merupakan sejarah buat sepak bola Brunei karena ini merupakan gelar internasional pertama mereka di era sepak bola Brunei yang baru terbentuk.

BAFA dibekukan tahun 2009 karena FIFA menilai BAFA telah diintervensi pemerintah. Sanksi itu dicabut dalam sidang Komite Eksekutif FIFA di Zurich akhir Mei 2011 setelah BAFA dibubarkan dan namanya diganti menjadi The National Football Association of Brunei Darussalam (NFABD). (OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau