LAMONGAN, KOMPAS.com — Pakta damai antara suporter Persela Lamongan, La Mania, dan suporter Persebaya Surabaya, Bonek, pada Rabu (7/3/2012) lalu ternoda.
Pakta damai yang dimediasi Kepolisian Resor Lamongan itu seperti tidak berarti dengan meninggalnya empat Bonek dan belasan lainnya luka-luka saat dalam perjalanan menuju Bojonegoro, Jumat (9/3/2012) malam.
Pakta damai ditandatangani perwakilan La Mania, yakni Nugroho, Tio, Eko, Sanawar, Karembo, dan Renggo. Dari Bonek diwakili Imron, Hasyim, Joner, dan Aan, Koordinator Bonek Arus Bawah. Pakta itu dimaksudkan mendamaikan dan meredam perseteruan pendukung kedua kesebelasan.
Sejumlah bonek yang mengalami luka mengaku dilempari ketika kereta yang mereka tumpangi melintasi Lamongan. Versi polisi, mereka tersangkut kabel saat berdiri di atas gerbong dan ada yang terjatuh atau membentur palang di stasiun.
Apa pun sebabnya, meninggalnya Bonek menyisakan duka. Apalagi sebagian besar tidak pamit hendak menonton bola kepada keluarga.
Miftakhul Huda (15), siswa kelas VIII SMP Kawung, anak bungsu pasangan Ahmad Suriyono dan Watini, warga Pesapen, Krembangan, Surabaya, pamit hendak ikut perkemahan Sabtu malam Minggu. Namun, dia diajak temannya, Ferry Ardiansyah, menonton bola.
Dia meninggal di RSUD Sosodoro Djatikusumo Bojonegoro karena luka parah di kepala. Sudarmaji (27), warga Rungkut Kidul, Kecamatan Rungkut, Surabaya, juga tidak pamit kepada keluarga.
Supardi (66), ayah Sudarmaji, menyatakan anaknya sudah tiga hari tidak pulang dan izin bekerja. Sudarmaji ditemukan tewas di Stasiun Babat bersama seorang Bonek lain. Menurut polisi, mereka tewas akibat terbentur palang di sekitar stasiun.
Kastijan (61), ayah Ahmad Ali Imron, juga menyebutkan anaknya pergi menonton bola tanpa izin. Imron terluka di kepala akibat tersangkut kabel saat ia ada di atas gerbong. Sebagai pencinta bola, Imron juga masuk Sekolah Sepak Bola asuhan M Subhan di Surabaya.
Menurut dia, sejumlah Bonek menyiapkan batu di tas karena khawatir diserang.
Sementara itu, kepulangan Bonek dikawal polisi secara bergelombang menggunakan bus lewat Nganjuk. Bila mereka dipulangkan lewat Lamongan, dikhawatirkan memicu kericuhan.
Usai pertandingan, sejumlah Bonek juga berulah dengan menjarah toko sepatu Mario di Jalan Pemuda, Sukorejo, Bojonegoro, milik Herlin. Sejumlah barang dagangan termasuk sepatu futsal dijarah.
Jumat malam Bonek menjarah kios di Jalan Monginsidi dan kantin SD Negeri 2 Campurrejo.
Sejumlah pemilik warung juga mengeluh Bonek mengambil makanan dan minuman tanpa membayar, seperti di Jalan Pemuda, Lettu Suwolo, dan Kepatihan.
Hingga pukul 22.00, bengkel dan toko suku cadang mobil di Melaten juga Bravo Swalayan di Jalan Pemuda dijaga polisi dan warga. Sejumlah Bonek masih menunggu giliran pemulangan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang