Rano: Raka Jangan Takut, Aku Ini Ayahmu

Kompas.com - 11/03/2012, 00:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Rano Karno mengungkapkan kegundahan hatinya setelah anaknya Raka Widyarma (20) mendekam dalam tahanan Polres Bandar Udara Soekarno-Hatta. Menurut Rano, ini klimaks dari depresi Raka yang dihadapinya sejak duduk di bangku SD.

Raka adalah anak angkat Rano. Ia diadopsi sejak satu minggu setelah dilahirkan dari keluarga sahabat Rano, Piter Hidayat. Selama sekitar 18 tahun Rano menyimpan rahasia itu dan berusaha menyatakan pada Raka bahwa ia adalah anak Rano.

Namun, kata Rano, ia juga tidak bisa menutupi obrolan di luar sana. Kabar bahwa Raka bukan anaknya tersebar hingga ke teman-teman Raka. Teman-teman Raka di sekolahnya sering mengejek Raka. Putra Rano yang introvert ini kemudian memendam kesedihannya bertahun-tahun.

Rano mengaku ia dan keluarga sempat membawa Raka ke psikiater karena kecenderungan emosinya labil, mudah stres. Raka diberikan semacam obat penenang dari dokter agar kondisi kejiwaannya tetap tenang dan tidak mudah depresi. Rano tahu anaknya stres dan mencari pelarian. Ia mengaku berusaha untuk membuat anaknya tak terpojok. Ia memahami betul apa yang dirasakan Raka selama bertahun-tahun.

"Saya dan istri saya memang tidak dikaruniai anak. Ini di samping saya adalah ayah kandung dari Raka. Raka adalah anak angkat saya, anak sahabat saya. Dia (Raka) depresi berat, karena banyak mendapat ledekan, tapi saya selalu yakini dia, kamu adalah anak saya," ujar Rano dengan mata berkaca-kaca saat jumpa pers di rumahnya di kawasan Cinere, Jakarta Selatan, Sabtu (10/3/2012) malam.

Di sampingnya duduk Piter Hidayat, ayah kandung Raka yang lebih banyak menunduk. Dua tahun lalu, kata Rano, ia akhirnya menceritakan pada Raka perihal Raka bukan anak kandungnya. Meski demikian, Rano mengingatkan anaknya bahwa ia tetap menjadi anak Rano yang akan menggantikannya suatu saat nanti.

Dalam peristiwa ini, Rano mengatakan, ia ingin anaknya tahu bahwa keluarga tetap akan mendukungnya untuk sembuh dari ketergantungan narkoba.

"Saya ingin support anak saya Raka. Saya tidak pernah takut dukung dia. Dia harapan saya, calon pengganti saya ketika saya tidak ada. Ini berat, tapi saya harus hadapi. Raka jangan takut. Aku ini ayahmu. Sampai kapan pun kamu anakku, kamu tanggungjawabku," tutur Rano.

Ia mengatakan, karena stres Raka sempat beberapa kali menyayat tangannya. Ia juga dua kali mengalami kecelakaan mobil, karena mengendarai mobil saat stres. "Kawan-kawan media senior sudah tahu dari dulu bahwa Raka bukan anak saya. Tapi saya minta agar tidak dipublikasikan karena kondisi Raka seperti itu. Saya tidak ingin Raka sedih dan terus berlarut-larut depresi," ujarnya.

Melihat kondisi anaknya saat ini, Rano menyatakan siap untuk memberikan kesaksian untuk anaknya di pengadilan. Ia menyatakan anaknya memang salah, tapi ia mengerti apa yang dirasakan anaknya bertahun-tahun, meski ia berusaha menyakinkan anaknya bahwa ia selalu mencintai Raka.

"Saya siap bersaksi untuk Raka. Tidak sedetikpun saya tinggalkan dia. Saya akan berada di belakangnya. Dia penerus saya, ketika saya mati nanti, saya mau dia yang mengucapkan adzan di telinga saya. Saya ingin anak saya sembuh," pungkas Rano.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau