Cuaca buruk

Nelayan di Padang Tidak Bisa Melaut

Kompas.com - 12/03/2012, 03:01 WIB

Padang, Kompas - Cuaca buruk dengan gelombang laut setinggi 4 meter membuat nelayan tradisional di Kota Padang, Sumatera Barat, tidak dapat melaut. Nelayan tersebut sejauh ini mengoperasikan perahu berkapasitas 20 tenaga kuda (PH).

”Kemarin sore saya memaksa melaut, tetapi ketika pulang malam hari saya justru terdampar di kawasan Pantai Purus I, mestinya ke Purus II,” kata M Hasan (31), salah satu nelayan.

Sebagian nelayan, menurut dia, terpaksa menantang badai karena butuh makan. Wilayah tangkapan yang dijelajahi bisa mencapai jarak sekitar 20 kilometer dari garis pantai di sekitar kawasan Pulau Sibonta dan Pulau Mindalang.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumbar Ade Edward mencatat, hujan badai pada Minggu pagi terjadi sekitar pukul 05.00 di Kota Padang. Gelombang mengempas hingga sekitar 20 meter dari bibir pantai. Batas terjangan tinggal menyisakan jarak sekitar 10 meter dari badan jalan.

Terkait nelayan yang hilang di Kepulauan Mentawai pada Senin lalu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai Tarminta mengatakan, empat nelayan tradisional telah ditemukan selamat. Mereka ditemukan di Dusun Saikoat, Desa Simatalu, Kecamatan Siberut Barat Daya, Mentawai.

”Sebelumnya ada 11 nelayan yang melaut pada Senin lalu dihantam badai. Tujuh orang selamat setelah ditolong nelayan kapal bagan, lalu empat lainnya akhirnya selamat setelah sempat dinyatakan hilang,” kataTarminta, Minggu (11/3).

Sementara itu, gelombang laut di Jorong Pondok, Kanagarian Sasak Ranah Pasisie, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, Kabupaten Pasaman Barat, Sumbar, yang terjadi pada Rabu lalu, juga mulai berkurang. Dalam peristiwa ini, 21 unit rumah hancur.

Darmansyah (50), warga setempat, dihubungi pada hari Minggu, mengatakan cuaca berangsur membaik. Bantuan pangan bagi warga hanya diberikan satu kali pada Sabtu sore. Bantuan itu berupa 2 kg beras, 10 bungkus mi instan, dan 2 butir telur. Jumat lalu, Bupati Pasaman Barat Baharuddin sempat mengunjungi korban. (INK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau