Padang, Kompas -
”Kemarin sore saya memaksa melaut, tetapi ketika pulang malam hari saya justru terdampar di kawasan Pantai Purus I, mestinya ke Purus II,” kata M Hasan (31), salah satu nelayan.
Sebagian nelayan, menurut dia, terpaksa menantang badai karena butuh makan. Wilayah tangkapan yang dijelajahi bisa mencapai jarak sekitar 20 kilometer dari garis pantai di sekitar kawasan Pulau Sibonta dan Pulau Mindalang.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumbar Ade Edward mencatat, hujan badai pada Minggu pagi terjadi sekitar pukul 05.00 di Kota Padang. Gelombang mengempas hingga sekitar 20 meter dari bibir pantai. Batas terjangan tinggal menyisakan jarak sekitar 10 meter dari badan jalan.
Terkait nelayan yang hilang di Kepulauan Mentawai pada Senin lalu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai Tarminta mengatakan, empat nelayan tradisional telah ditemukan selamat. Mereka ditemukan di Dusun Saikoat, Desa Simatalu, Kecamatan Siberut Barat Daya, Mentawai.
”Sebelumnya ada 11 nelayan yang melaut pada Senin lalu dihantam badai. Tujuh orang selamat setelah ditolong nelayan kapal bagan, lalu empat lainnya akhirnya selamat setelah sempat dinyatakan hilang,” kataTarminta, Minggu (11/3).
Sementara itu, gelombang laut di Jorong Pondok, Kanagarian Sasak Ranah Pasisie, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, Kabupaten Pasaman Barat, Sumbar, yang terjadi pada Rabu lalu, juga mulai berkurang. Dalam peristiwa ini, 21 unit rumah hancur.
Darmansyah (50), warga setempat, dihubungi pada hari Minggu, mengatakan cuaca berangsur membaik. Bantuan pangan bagi warga hanya diberikan satu kali pada Sabtu sore. Bantuan itu berupa 2 kg beras, 10 bungkus mi instan, dan 2 butir telur. Jumat lalu, Bupati Pasaman Barat Baharuddin sempat mengunjungi korban. (INK)