KOMPAS.com - Setiap geraknya seolah tarian, lembut dan sedap dipandang. Itulah Yessi Haryanda (46), yang sekian lama malang melintang bersama kelompok Guruh Soekarnoputra.
Kami berjumpa dengan Yessi di sebuah kafe di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa (28/2/2012) siang. Dia mengenakan pakaian merah menyala tanpa lengan dengan rambut dibiarkan tergerai. Di tengah kafe yang rimbun dan teduh oleh pepohonan, Yessi serupa mawar merah merekah.
Seperti kebanyakan penari, hampir semua gerakan Yessi terlihat anggun dan lembut. Barangkali, itulah cermin dari disiplin menari yang telah dia tekuni selama puluhan tahun.
”Menari itu sepertinya sudah meresap ke dalam jiwa,” kata Yessi. Matanya berbinar dan senyumnya mengembang. Lantas Yessi melanjutkan kata-katanya.
”Tangan ini bisa bergerak-gerak sendiri kalau saya mendengar musik yang enak seperti hip hop. Sampai-sampai anak-anak saya berteriak, ’Mama jangan malu-maluin gitu deh’. Mungkin buat mereka saya lebay, ha-ha-ha.”
Siang itu angin berembus lembut di antara celah pepohonan. Bunyi daun-daun yang bergesekan terdengar indah. Dan, saat itulah tangan Yessi secara otomatis bergerak ”menarikan” kipas yang ada di tangannya. Indah... tidak lebay.
Konde di pesawat
Yessi mulai menari sejak usia belia pada awal era 1970-an. Ketika itu, kedua orangtuanya yang mencintai seni mendatangkan guru tari ke rumah. Dari sang guru, Yessi belajar tari jawa dan bali klasik. ”Waktu kelas III SD, saya sudah mulai pentas,” ujarnya.
Ketertarikannya terhadap dunia tari terus tumbuh. Dia juga mempelajari balet secara otodidak. Ketika kelas I SMP, dia mendaftarkan diri di kelompok teater musikal Laras Cipta. Selama 3-4 tahun Yessi pentas bersama grup teater tersebut. Salah satu pentas yang dia ingat adalah Pergelaran Teater Musikal Laras Cipta tahun 1979.
Suatu hari dia bertemu dengan Denny Malik. Denny lantas mengajaknya bergabung dengan kelompok Swara Mahardika yang didirikan Guruh Soekarnoputra. ”Saya mau banget. Siapa sih yang enggak mau bergabung dengan Mas Guruh. Dia itu kan trendsetter,” katanya.
Yessi pun didukung orangtuanya yang merupakan pengagum Bung Karno. Dia ingat benar, dulu ketika kecil, orangtuanya sering mengajaknya ziarah ke makam Bung Karno. ”Sepulang ziarah, kami membeli foto-foto keluarga Bung Karno, termasuk foto Mas Guruh. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana nge-fans-nya saya sama Mas Guruh.”
Singkat kata, Yessi pun bergabung dengan kelompok Swara Mahardika dengan mulus. Berbeda dengan orang lain yang harus susah payah melalui audisi. ”Saya cuma diajak ngobrol doang.”
Yessi pertama kali pentas dengan kelompok itu tahun 1981 lewat Pergelaran Gerak dan Tari Cipta Daya Negara di Bulungan, Jakarta. Selanjutnya, kiprahnya di dunia tari dan pementasan tidak tertahankan.
Bersama Guruh -termasuk dalam kelompok GSP Productions- Yessi tampil di dalam negeri maupun mancanegara. Dia antara lain pernah ikut pergelaran di Jerman, Perancis, Polandia, Austria, Swedia, Finlandia, Jepang, dan Korea Utara.
Pengalaman paling menarik adalah ketika ia tampil di Berlin Timur dan Berlin Barat tahun 1985, atau sekitar lima tahun sebelum bersatunya kembali Jerman. ”Waktu mau masuk ke Jerman Timur, suasananya menegangkan banget. Rombongan harus melewati pos-pos militer. Kami juga mesti diam, enggak boleh cekikikan seperti biasanya.”
Saking seringnya pentas, lanjut Yessi, penari GSP Productions, termasuk dirinya, hampir semuanya mandiri. ”Kami sudah biasa dandan, pakai kebaya, bahkan nyasak dan nyanggul rambut sendiri di atas pesawat. Keluar dari pesawat, kami sudah menjelma jadi perempuan Jawa,” tutur Yessi yang juga pernah menjadi None Jakarta Selatan tahun 1988.
”Taksu”
Selain dunia tari, Yessi pernah mencoba menekuni dunia foto model hingga melukis. Dia juga pernah mencoba bekerja di bank. Namun, dia tertarik kembali ke dunia tari. Kini, Yessi masih terlibat dalam urusan pentas tari meski sebatas di belakang panggung. Pada pementasan Karya Cipta Guruh Sukarno Putra ”Beta Cinta Indonesia” di Teater Jakarta pada Oktober 2011, Yessi menjadi produser.
Dunia pentas memang selalu membuatnya kangen. Bagaimana tidak, setiap memasuki arena pentas, taksu alias energi kreatif di dalam dirinya langsung bergejolak dan meresap ke seluruh jengkal tubuhnya. ”Kalau sudah begitu, tubuh saya bisa bergerak sendiri,” katanya.
Senyum manis satu jam
Pengalaman selama bergabung dengan GSP Productions sangat membekas di benak Yessi Haryanda. Di kelompok asuhan Guruh Soekarnoputra itu, Yessi seangkatan dengan Andri Sentanu, Titi DJ, Memes, Jeffrey Waworuntu, Rico Tampatty, Gusti Randa, Rama Suprapto, Alex Hassim, dan Elmo. Mereka semua telah dikenal di jagat hiburan. ”Rasanya semuanya menarik, menyenangkan, enggak ada susahnya,” tutur Yessi.
Salah satu kenangan yang dia ingat adalah ketika dihukum oleh Guruh. Waktu itu, Yessi dan penari GSP sedang berlatih untuk sebuah pementasan. Guruh meminta mereka tersenyum manis. Namun, mereka tidak bisa memperlihatkan senyuman seperti yang diinginkan Guruh.
”Akibatnya, kami disetrap senyum selama satu jam, ha-ha-ha,” tutur Yessi.
Pementasan GSP menyimpan kenangan sendiri buat Yessi. Bagaimana tidak, untuk sebuah pementasan, misalnya, wajahnya pernah diberi bedak berwarna hitam. Yessi yang berkulit kuning langsat itu pun berubah menjadi perempuan berkulit hitam legam. Dia juga pernah ”menjadi” kupu-kupu dengan sayap amat besar. ”Sudah begitu, rok bagian dalamnya diberi kurungan ayam agar melebar,” kata Yessi mengenang.
Pakaian yang seperti itu pasti membuat ribet sekaligus memaksa pemakainya bisa menampilkan tarian yang -dalam istilah anak sekarang- sesuatu banget. ”Karena tampil seperti itu, belakangan saya diminta menjadi model iklan,” ujar Yessi.
Dunia pentas yang menyenangkan itu membuat Yessi sampai sekarang masih kangen untuk tampil di pentas.
(Budi Suwarna)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang