Jalan kaki

Indra Akan Teruskan ke Mekkah

Kompas.com - 13/03/2012, 14:50 WIB

CIREBON, KOMPAS.com - Indra Azwan (53), lelaki asal Blimbing, Malang, Jawa Timur, yang berjalan kaki dari Malang ke Jakarta, berencana meneruskan perjalanannya ke Mekkah, Arab Saudi.

"Kalau Presiden tak juga mendengarkan nasib saya, maka tiada jalan lain saya akan berjalan kaki ke Mekkah," kata Indra, Selasa (13/3/2012) nii.

Keputusan itu diambil, sebab ia tak lagi percaya kepada janji-janji pimpinan negeri yang akan menuntaskan kasus anaknya.

Pada 10 Agustus 2010 lalu ia sudah ditemui Presiden, namun hingga kini kasus anaknya terkatung-katung. "Saya pergi ke Mekkah untuk mengadu, sebagai simbol kepasrahan saya kepada Sang Pencipta. Kalau manusia tidak bisa memberi keadilan kepada saya, biarlah Tuhan yang mengadili mereka," katanya.

Anak Indra yakni Rifki Andika (12) ditabrak polisi bernama Joko Sumantri yang ketika itu berpangkat inspektur satu (iptu). Saat ini Joko berpangkat komisaris. Selama 19 tahun ini kasus tersebut terkatung-katung.

Pada tahun 2008, Pengadilan Militer Surabaya menyatakan kasus itu kedaluwarsa. Padahal Joko terbukti sah dan meyakinkan, yang karena kealpaannya mengakibatkan matinya orang lain.

"Saya selalu bertanya kepada polisi dan Denpom Malang, tetapi tidak digubris. Kasus anak saya lamban diproses sehingga akhirnya diputus kedaluwarsa," ujar Indra.

Untuk perjalanan menuju Mekkah, Indra berbekal nekat. "Saya akan lewat Palembang, Dumai, lalu Malaysia, dan menyeberang terus ke Iran, sampai Mekkah," katanya.

Soal rencana ini, Indra sudah membicarakan dengan keluarga di Malang. Ia memperkirakan butuh waktu setahun untuk sampai di Tanah Suci Mekkah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau