Badai Kandaskan Tiga Kapal di Laut Bengkulu

Kompas.com - 14/03/2012, 03:03 WIB

Bengkulu, Kompas - Tiga kapal kandas di tiga lokasi berbeda akibat diterjang badai yang terjadi di perairan Bengkulu dan sekitarnya sejak awal Maret ini. Administratur Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, belum mengizinkan satu kapal pun berlayar mengingat cuaca ekstrem diperkirakan masih akan terjadi hingga sepekan ke depan.

Sementara itu, upaya pencarian 17 awak kapal kargo Serunting I yang hilang di perairan Samudra Hindia, antara Lampung dan Bengkulu, beberapa waktu lalu hingga Selasa (13/3) belum membuahkan hasil. Badan SAR Nasional telah mengerahkan helikopter untuk mencari korban kapal tenggelam itu.

Administratur Pelabuhan Pulau Baai Pieter Hendrik Benyamin Fina, Selasa (13/3), mengatakan, ketiga kapal yang kandas mengalami kerusakan akibat angin kencang dan gelombang tinggi.

Ketiga kapal itu adalah MV Sinar Banjar yang kandas satu mil arah utara Pelabuhan Linau, Kabupaten Kaur. Kapal dari Batam itu rencananya memuat pasir besi di Linau, tetapi kandas 2 Maret 2012. Kedua, kapal MV Harmoni II yang terpaksa lego jangkar 8 mil arah tenggara Tanjung Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, 7 Maret 2012. Kapal bermuatan mobil dengan tujuan Padang itu rusak dihantam badai. Nasib naas pun menimpa kapal tongkang kerja WB Nagasaki yang kandas 200 meter dari alur masuk Pelabuhan Pulau Baai, 8 Maret 2012. Kapal itu mengangkut alat-alat kerja untuk pengerjaan pelabuhan di Air Muring, Bengkulu Utara.

Kabul Rianto, salah satu anak buah kapal WB Nagasaki, menjelaskan, Kamis (8/3), kapal Nagasaki bertolak ke Pelabuhan Pulau Baai dari Air Muring, Bengkulu Utara, untuk berlindung dari badai yang diperkirakan akan terjadi Jumat (9/3) pukul 00.00. Kapal berangkat dari Air Muring, Kamis pagi, dan diperkirakan sampai di Pulau Baai sore hari. Namun, badai justru datang lebih awal. Akibatnya, kapal dihantam badai sesaat sebelum masuk alur pelabuhan dan kandas mengenai bebatuan.

Ketua Kelompok Analisa dan Prakiraan Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu Suparwi menyatakan, waktu kandasnya sejumlah kapal di Bengkulu hampir bersamaan dengan terjadinya badai siklon tropis di perairan Bengkulu, 9 Maret 2012.

Direktur Polair Polda Bengkulu Komisaris Besar Kasmolan mengatakan, kapal yang melintas perairan Lampung-Bengkulu kesulitan mencari tempat berlindung jika badai menerjang.

Belum ditemukan

Pencarian 17 awak kapal kargo Serunting I, menurut Koordinator Badan SAR Nasional Pos SAR Lampung, Andri Andi, belum membuahkan hasil. Padahal, tim SAR sudah mencari di perairan antara Kota Agung Tanggamus hingga Bengkunat Lampung Barat, kemarin.

Di Jawa Timur, akibat cuaca buruk, ratusan warga Bawean tertahan di Gresik sejak Sabtu (10/3) karena kapal penumpang tidak bisa berlayar. Ombak di perairan utara Jawa mencapai 4 meter. Warga Bawean pun menuntut disediakan sarana transportasi laut yang layak yang bisa berlayar dalam kondisi cuaca ekstrem.

Bupati Gresik Sambari Halim Radianto meminta dinas perhubungan bersama wakil warga mengajukan bantuan kapal perang Pangarmatim untuk mengangkut warga Bawean. ”Kalau itu disetujui, pada hari Rabu warga sudah bisa pulang ke Bawean.”

Gangguan cuaca ekstrem juga terjadi di perairan Nusa Tenggara Timur dan mengganggu pelayanan feri karena tinggi gelombang 3,5 meter hingga 7 meter dengan kecepatan 25-35 knot per jam.

Badan Meteorologi Stasiun El Tari Kupang menjelaskan, ancaman cuaca buruk akan berlangsung 14-18 Maret 2012. Manajemen Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan Kupang pun terpaksa membatalkan pelayaran di daerah itu, termasuk lintasan paling dekat, Kupang-Rote Ndao. (KOR/JON/ADH/ACI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau