Rendang Jadi Menu Favorit di Jerman

Kompas.com - 15/03/2012, 01:19 WIB

LONDON, KOMPAS.com — Rendang terpilih menjadi menu favorit pengunjung resepsi pembukaan "Indonesian Culinary Festival" di Grand Westin Hotel-Berlin, Jerman.

"Tidak salah kalau rendang menjadi ikon kuliner Indonesia. Selain itu, rendang pun terbukti menjadi makanan terlezat di seluruh dunia versi CNN Go 2011," ujar Sekretaris III-Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Berlin, Purno Widodo, kepada Antara London, Rabu (14/3/2012).

Acara resepsi pembukaan Indonesian Culinary Festival dihadiri perwakilan dari berbagai kementerian Jerman, korps diplomatik, media, hotel, biro travel, friends of Indonesia, perwakilan dari Kemparekraf RI, dan peserta dari Institute of Cultural Diplomacy bertemakan "Authentic West Sumatran Culinary Culture".

Selain menu hidangan utama Sumatera Barat, berbagai makanan Nusantara lainnya dari makanan pembuka, salad, sup, hingga makanan penutup, seperti sarikaya, jongkong, dan minuman khas Indonesia juga menggoda lidah para hadirin.

Dikatakannya, dari hidangan utama yang tersedia, seperti cumi bakar, gulai kapau nangka, dan sate padang, yang menjadi menu terfavorit dari tamu undangan adalah rendang. Dalam waktu kurang dari satu jam saja semua rendang yang ada di meja hidangan ludes tak bersisa.

Rasa gurih dari santan yang mengering serta paduan bumbu rempah yang meresap hingga ke serat daging terdalam telah membuat rendang, yang walaupun sekilas tampak seperti gosong, didapatkan melalui antrean panjang oleh para undangan.

"Saya belum pernah merasakan masakan berbahan daging selezat ini seumur hidup saya," ujar Nazrul, seorang diplomat Banglades yang ditugaskan di Jerman.

Acara resepsi tersebut merupakan bagian dari Festival Kuliner Indonesia yang berlangsung dari tanggal 9 hingga 16 Maret 2012. Selama seminggu penuh Restaurant Relish di Westin Grand Hotel Berlin menyajikan makanan dari Sumatera Barat yang diolah secara khusus oleh Master Chef Indonesia, William Wongso.

Selain menyajikan menu Sumatera Barat di restoran tersebut, diadakan juga Cooking Workshop oleh Master Chef William Wongso yang ternyata sangat diminati oleh pencinta kuliner Indonesia di Jerman.

Acara yang bertujuan untuk memperkenalkan berbagai cita rasa masakan Indonesia ini dikemas dalam berbagai subkegiatan, yaitu penyajian makanan di Restaurant Relish Hotel Westin, workshop memasak, dan resepsi untuk mengawali rangkaian acara.

Dalam resepsi tersebut disajikan berbagai macam menu masakan dari Sumatera Barat, penampilan harpa dari Maya Hassan serta peluncuran buku kuliner berjudul From The Ambassador's Kitchen.

Buku kuliner ini berisi berbagai resep masakan Indonesia yang dipilih secara khusus oleh Ny Atiek Pratomo berdasarkan pengalamannya dalam mengadakan jamuan diplomatik mendampingi suaminya sebagai Duta Besar RI untuk Jerman.

Buku yang dibuat dalam bahasa Inggris dan Jerman ini berisi juga berbagai panduan dan tips dalam menyajikan makanan Indonesia dengan sentuhan internasional.

"Berbagai menu yang saya pilihkan di sini disesuaikan dengan selera masyarakat Eropa, terutama masyarakat Jerman, terhadap masakan Indonesia. Resep-resep tersebut juga dipilih berdasarkan kemudahan cara membuatnya serta ketersediaan bahan-bahannya di Jerman ini," ujar Ny Atiek Pratomo saat diwawancarai oleh berbagai media massa yang tertarik dengan isi buku tersebut di pengujung acara.

Diplomasi kuliner

Festival Kuliner Indonesia di Jerman ini tak lepas dari upaya KBRI Berlin dalam melakukan berbagai strategi diplomasi, yang kali ini menggunakan soft diplomacy melalui kuliner Indonesia.

"Festival Kuliner Indonesia di Jerman ini dapat menjadi upaya tersendiri dalam berbagai cara yang selama ini telah dilakukan untuk memperkuat ikatan persahabatan antara masyarakat Jerman dan masyarakat Indonesia," demikian ungkap Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman, Dr Eddy Pratomo.

Makanan sebagai salah satu media diplomasi juga diamini oleh Mark Donfried, direktur dan pendiri Institute of Cultural Diplomacy di Berlin, yang juga berkesempatan memberikan kata sambutan di awal acara.

Menurut Donfried, kuliner dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam diplomasi budaya, di mana diplomasi ini ditujukan untuk menanamkan rasa saling percaya antara dua masyarakat yang berbeda.

"Diplomasi budaya sangat penting dalam membangun hubungan dan membangun kepercayaan sosial budaya dengan mengedepankan berbagai ide, gagasan, nilai-nilai, tradisi, dan berbagai aspek dari identitas budaya yang tercermin dalam berbagai produk budaya, yang salah satunya adalah tradisi kulinernya," ujar Donfried.

Festival Kuliner Indonesia diadakan dalam rangkaian perayaan 60 tahun hubungan Indonesia-Jerman pada 2012. "Menyadari bahwa budaya merupakan aspek penting dalam diplomasi maka berbagai macam program pendekatan kebudayaan dilakukan oleh KBRI Berlin, termasuk budaya kuliner Nusantara," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau