Pilpres as

Romney Tak Didukung Kaum Konservatif

Kompas.com - 15/03/2012, 03:18 WIB

WASHINGTON DC, SELASA - Kemenangan mantan Senator Rick Santorum dalam pemilihan pendahuluan (primary) di Negara Bagian Alabama dan Mississippi, Selasa (13/3), makin membuktikan bahwa Mitt Romney tak mendapat dukungan kelompok masyarakat konservatif di AS.

Romney hingga saat ini masih memimpin persaingan antarkandidat presiden (capres) AS dari Partai Republik. Bahkan, meski ia hanya menduduki tempat ketiga di Alabama dan Mississippi, Romney mengumpulkan jumlah delegasi lebih banyak dari Santorum pekan ini. Hal itu terjadi setelah dia memenangi kaukus Hawaii dan Samoa Amerika.

Akan tetapi, kekalahan di wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis massa pendukung Partai Republik itu menunjukkan bahwa Romney tidak benar-benar mendapat dukungan partainya.

Jajak pendapat yang digelar di tempat pemungutan suara, Selasa, menunjukkan, separuh pemilih yang terdaftar sebagai pendukung Partai Republik di Alabama dan Mississippi menganggap Romney tak cukup konservatif.

Di kalangan pemilih yang menyebut diri mereka konservatif sejati, jumlah orang yang meragukan konservatisme Romney melonjak hingga 60 persen. Secara keseluruhan, hanya sepertiga pemilih di Mississippi dan seperempat pemilih di Alabama yang menganggap pandangan Romney dalam berbagai isu sudah benar.

Sukses Santorum dan kekalahan Romney di dua negara bagian di wilayah selatan AS itu juga menunjukkan perpecahan yang terjadi di dalam Partai Republik. Sebagian pendukung partai tersebut menginginkan capres dari kelompok konservatif ortodoks, seorang republiken ”tulen”.

Namun, sebagian lagi mengharapkan capres yang lebih moderat untuk memikat kelompok pemilih independen guna mengalahkan Presiden Barack Obama pada pemilihan presiden 6 November nanti.

Hampir tak terkejar

Secara hitungan di atas kertas, Romney sebenarnya hampir tak mungkin tersaingi para rivalnya. Menurut hitungan terbaru Associated Press, Romney telah mengumpulkan 495 delegasi, disusul Santorum (252 delegasi), mantan Ketua DPR AS Newt Gingrich (131 delegasi), dan anggota DPR AS asal Texas, Ron Paul (48).

Seorang kandidat bisa lolos menjadi capres definitif Partai Republik jika telah mengumpulkan sedikitnya 1.144 delegasi. Dengan laju perolehan suara seperti saat ini, Romney diprediksi akan mencapai jumlah minimum tersebut sebelum konvensi nasional Partai Republik digelar di Tampa, Florida, 27-30 Agustus nanti.

Meski demikian, kondisi itu tak membuat para rivalnya menyerah. Santorum menggunakan momen kemenangannya di Alabama dan Mississippi untuk menyeru kepada kelompok konservatif agar bersatu di belakangnya mengalahkan Romney.

”Sekarang tiba saatnya bagi kelompok konservatif untuk bersatu,” seru Santorum saat berkampanye di Lafayette, Negara Bagian Louisiana, Selasa. Kubu Santorum berharap Gingrich keluar dari persaingan sehingga kelompok konservatif yang selama ini mendukung Gingrich bisa mendukung dia.

Namun, Gingrich sendiri tak menunjukkan tanda-tanda akan mengundurkan diri. Ia berjanji akan terus berjuang sampai konvensi di Tampa.

Kengototan para rivalnya bertahan ini membuat Romney tak kunjung bisa fokus pada strategi mengalahkan Obama dan menjalankan program pengumpulan dana kampanye. Tim kampanye Romney dikabarkan mulai menghadapi masalah keuangan.(AP/AFP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau