Jakarta, Kompas -
Produksi energi terbarukan yang paling murah menjadi target awal. Tujuannya agar mampu bersaing dengan bahan bakar minyak konvensional dari fosil yang harganya akan naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter.
”Masyarakat membutuhkan alternatif sumber energi. Ini tantangan yang perlu dijawab,” kata Sekretaris Menteri Lingkungan Hidup Hermien Roosita dalam diskusi panel ”Indonesia Young Scientist Forum on the Environment: Promoting Green Technology”, Rabu (14/3), di Jakarta.
Diskusi itu adalah kegiatan paralel The Asia-Pacific Network for Global Change Research 17th Intergovernmental Meeting/ Scientific Planning Group Meeting. Berdasarkan data Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material Unggul Priyanto, harga energi terbarukan masih jauh di atas harga BBM konvensional.
Energi terbarukan berupa biodiesel dari minyak sawit sebagai alternatif solar dan minyak diesel harganya Rp 8.000-Rp 10.000 per liter. Bioetanol lebih mahal, di atas Rp 10.000 per liter.
Menurut Hermien, energi terbarukan dengan biaya murah dapat diupayakan dengan mengoptimalkan pemanfaatan limbah yang terbuang. Program Kementerian Lingkungan Hidup di Kalimantan Selatan berhasil mendorong sebagian masyarakat mengolah kotoran ternak untuk pembuatan energi biogas.
”Hasil riset ilmuwan muda akan disinergikan dengan program riset Asia-Pasifik Network,” kata Hermien.
Asisten Deputi Urusan Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan Limbah B3 Pertambangan, Energi, dan Migas Kementerian Lingkungan Hidup, Rasio Ridho Sani, mengatakan, dana program pertanggungjawaban sosial korporat (CSR) bisa digunakan untuk menunjang implementasi hasil riset para ilmuwan muda. kendala yang ditemui antara lain minimnya informasi mengenai metode implementasi hasil-hasil riset itu.
”Perusahaan selama ini kesulitan mengakses informasi hasil- hasil riset yang dapat diterapkan untuk program CSR mereka,” kata Ridho Sani.
Menurut dia, inventarisasi hasil riset diperlukan untuk menunjang pilihan bagi program CSR perusahaan. Forum ilmuwan muda yang menjalankan riset teknologi hijau diharapkan secara progresif menawarkan hasil-hasil penelitian mereka.
Tidak hanya berkaitan dengan energi terbarukan, tetapi teknologi hijau bisa mencakup rekayasa perbaikan dan pemulihan lingkungan yang terdegradasi akibat ulah manusia. Selain itu, riset terhadap perubahan lingkungan yang berdampak pada perubahan iklim Program Riset Iklim Dunia (WCRP) yang saat ini fokus pada riset iklim dan atmosfer, variabilitas dan prakiraan iklim, serta siklus air dan energi.