Forum periset

Energi Terbarukan yang Termurah Jadi Target

Kompas.com - 15/03/2012, 03:53 WIB

Jakarta, Kompas - Kementerian Lingkungan Hidup menghimpun periset muda dari berbagai lembaga untuk mengimplementasikan hasil riset yang dibutuhkan masyarakat, terutama yang ramah lingkungan.

Produksi energi terbarukan yang paling murah menjadi target awal. Tujuannya agar mampu bersaing dengan bahan bakar minyak konvensional dari fosil yang harganya akan naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter.

”Masyarakat membutuhkan alternatif sumber energi. Ini tantangan yang perlu dijawab,” kata Sekretaris Menteri Lingkungan Hidup Hermien Roosita dalam diskusi panel ”Indonesia Young Scientist Forum on the Environment: Promoting Green Technology”, Rabu (14/3), di Jakarta.

Diskusi itu adalah kegiatan paralel The Asia-Pacific Network for Global Change Research 17th Intergovernmental Meeting/ Scientific Planning Group Meeting. Berdasarkan data Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material Unggul Priyanto, harga energi terbarukan masih jauh di atas harga BBM konvensional.

Energi terbarukan berupa biodiesel dari minyak sawit sebagai alternatif solar dan minyak diesel harganya Rp 8.000-Rp 10.000 per liter. Bioetanol lebih mahal, di atas Rp 10.000 per liter.

Menurut Hermien, energi terbarukan dengan biaya murah dapat diupayakan dengan mengoptimalkan pemanfaatan limbah yang terbuang. Program Kementerian Lingkungan Hidup di Kalimantan Selatan berhasil mendorong sebagian masyarakat mengolah kotoran ternak untuk pembuatan energi biogas.

”Hasil riset ilmuwan muda akan disinergikan dengan program riset Asia-Pasifik Network,” kata Hermien.

Sumber dana

Asisten Deputi Urusan Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan Limbah B3 Pertambangan, Energi, dan Migas Kementerian Lingkungan Hidup, Rasio Ridho Sani, mengatakan, dana program pertanggungjawaban sosial korporat (CSR) bisa digunakan untuk menunjang implementasi hasil riset para ilmuwan muda. kendala yang ditemui antara lain minimnya informasi mengenai metode implementasi hasil-hasil riset itu.

”Perusahaan selama ini kesulitan mengakses informasi hasil- hasil riset yang dapat diterapkan untuk program CSR mereka,” kata Ridho Sani.

Menurut dia, inventarisasi hasil riset diperlukan untuk menunjang pilihan bagi program CSR perusahaan. Forum ilmuwan muda yang menjalankan riset teknologi hijau diharapkan secara progresif menawarkan hasil-hasil penelitian mereka.

Tidak hanya berkaitan dengan energi terbarukan, tetapi teknologi hijau bisa mencakup rekayasa perbaikan dan pemulihan lingkungan yang terdegradasi akibat ulah manusia. Selain itu, riset terhadap perubahan lingkungan yang berdampak pada perubahan iklim Program Riset Iklim Dunia (WCRP) yang saat ini fokus pada riset iklim dan atmosfer, variabilitas dan prakiraan iklim, serta siklus air dan energi. (NAW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau