Pornografi

Warnet Tolak Rencana Razia "Game Online"

Kompas.com - 15/03/2012, 10:02 WIB

DEPOK, KOMPAS.com - Pengelola warung internet dan game online mempertanyakan rencana penertiban yang dilakukan Pemerintah Kota Depok. Sebagian dari mereka keberatan jika razia itu mengarah pada penggantian aplikasi game karena belum tentu menarik bagi konsumen.

”Saya keberatan dengan rencana Pemkot Depok buru-buru menyiapkan aplikasi pengganti. Sebab, belum tentu aplikasi pengganti itu laku. Semestinya ada pembicaraan antara pemerintah dan kami (pengelola),” tutur Pian (28), pengelola Istana Net, di Beji, Depok, Jawa Barat, Rabu (14/3/2012).

Penertiban warung internet (warnet) dan game online seharusnya didahului sosialisasi kepada pengelola dan ada jaminan tidak mengganggu bisnis internet itu.

Indra (24), pengelola Severen Net, di Depok, mengatakan, saat ini ada dua aplikasi permainan terfavorit, yaitu Lost Saga dan Point Blank. Aplikasi ini menyediakan banyak permainan, tergantung pada penggunanya, dan permainan dalam aplikasi itu tidak selalu berdampak negatif.

Sebelumnya Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Depok Herry Pansila menyampaikan rencana penertiban game online. Permainan yang berkembang di warnet selama ini banyak berisi kekerasan dan pornografi. Akibatnya, anak yang belum siap menerimanya terpengaruh oleh permainan itu.

Herry mengingatkan, Amn (13), siswa SDN 1 Cinere, Depok, yang menikam temannya belakangan diketahui dari polisi gemar bermain game di sekitar rumahnya. Meski tidak dapat disimpulkan sebagai sebab akibat, pengaruh game online perlu diwaspadai. Saat ini di Depok ada lebih dari 2.000 penyedia game online yang tersebar di 11 kecamatan.

Aksi riil

Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) M Ihsan mengatakan, pornografi, pornoaksi, dan tayangan kekerasan seperti di game online sudah lama menjadi masalah. Anak-anak usia sekolah dari berbagai lapisan ekonomi mudah mengakses situs-situs terkait ketiga hal itu di internet, berbagai bacaan, dan tayangan televisi. Warnet yang menyediakan akses ke situs porno mungkin sudah ada sejak akhir tahun 1990-an. Penutupan situs-situs porno yang diikuti dengan razia warnet beberapa tahun lalu terbukti hanya reaksi sesaat pemerintah.

”Sekarang muncul lagi gugus tugas antipornografi. Saya rasa ini reaksi yang reaktif. Mengapa tidak mengefektifkan program yang sudah ada saja. Buat langkah riil di tingkat bawah, di kampung-kampung dan sekolah-sekolah,” kata Ihsan.

Beberapa tahun lalu, ujarnya, sudah ada wacana memberikan pendidikan seks sejak sekolah dasar (SD). Namun, program itu tidak jalan karena ketidakpahaman warga.

”Pendidikan seks sebenarnya mengenalkan perbedaan laki-laki dan perempuan secara anatomi, kesehatan reproduksi, kecenderungan psikologis seiring pertumbuhan anak dan remaja, dan lainnya. Ini penting sebagai pembekalan diri anak agar tak mudah terjerumus,” paparnya.

Anak-anak dan remaja perlu pendekatan khusus. Biasanya mereka mudah memahami ketika sesama mereka yang memberi penjelasan dengan bahasa anak muda. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beserta jajaran di bawahnya, termasuk sekolah-sekolah, memprioritaskan adanya kegiatan kelompok sebaya. Kelompok ini bisa berinteraksi dengan target penanaman pemahaman yang benar tentang seks dan kekerasan.

Sebagai antisipasi akses ke situs porno, Suku Dinas Pendidikan Dasar Jakarta Pusat memblokir situs porno di 100 SD pada 2011. Kepala Seksi Pendidikan SD Jakarta Pusat Uripasih mengatakan, pemblokiran itu dilakukan dalam kegiatan internet sehat.

Awalnya, mereka dikenalkan dengan komputer dan internet agar melek teknologi. Akan tetapi, di sisi lain, ada peluang terjadi penyalahgunaan internet untuk mengakses situs porno.

Meski demikian, Uripasih belum bisa memastikan apakah pemblokiran ini akan terus berlanjut tahun 2012 ini. Padahal, dari 400 SD negeri dan swasta di Jakarta Pusat, baru 100 sekolah yang sudah memblokir akses terhadap situs porno. Dia mengakui, pihaknya tidak bisa mengawasi semua kegiatan siswa di luar sekolah, termasuk situs porno yang mereka buka di warnet. (NEL/NDY/ART)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau