Snmptn tulis akan dihapus

SNMPTN Jalur Undangan Harus Adil

Kompas.com - 15/03/2012, 12:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Rochmat Wahab mengatakan, tidak menolak kebijakan pemerintah yang menghapus jalur ujian tulis pada SNMPTN 2013 mendatang. Akan tetapi, Rochmat menegaskan, seluruh proses yang dilakukan dalam menentukan penerima jalur undangan harus mengedepankan asas berkeadilan.

"Kita tidak menolak. Tapi semua harus mengedepankan fairness," kata Rochmat, di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Kamis (15/3/2012).

Dengan dihapuskannya SNMPTN jalur ujian tertulis, maka akses masuk PTN hanya menyisakan dua jalur penerimaan yaitu jalur undangan dan jalur ujian mandiri.

Jalur undangan ditentukan berdasarkan nilai rapor siswa dan hasil ujian nasional (UN). Dalam proses seleksi ini, kriteria sekolah juga turut memengaruhi jumlah siswa yang berhak menerima jalur undangan. Adapun, jalur ujian mandiri merupakan kebijakan yang diatur oleh masing-masing PTN.

Rochmat mengusulkan tiga hal yang harus diperhatikan agar penentuan penerima jalur undangan dapat dilaksanakan dengan adil, yaitu mengevaluasi kembali nilai rapor berdasarkan kriteria sekolah, mengubah norma UN, dan memberikan akses lebih kepada siswa yang memiliki bakat khusus.

Evaluasi nilai rapor, menurutnya, perlu dilakukan karena setiap sekolah memiliki kriteria yang berbeda. Untuk itu, pemerintah harus membuat sistem untuk mendukung langkah tersebut.

"Nilai rapor siswa itu bisa dibedakan berdasarkan kriteria sekolahnya. Nilai 9 di sekolah bagus, tentu berbeda dengan nilai 9 di sekolah standar," ujar Rochmat.

Sementara, terkait norma UN, Rachmat berpendapat, akan lebih baik jika hasil UN disajikan dalam bentuk skor dan bukan sekadar lulus atau tidak lulus. Alasannya, hal itu akan menciptakan hasil UN yang lebih kredibel. Sebab, berdasarkan pengalaman penyelenggaraan UN di tahun-tahun sebelumnya, hasil UN dapat dibedakan berdasarkan zona pelaksanaannya.

"Saya lebih suka memainkan skor ketimbang lulus atau tidak. Itu akan lebih kredibel, membedakan antara white zone, blue zone, dan black zone," ungkapnya.

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini menambahkan, pemerintah juga harus memberikan akses lebih kepada siswa yang memiliki bakat khusus. Siswa-siswa tersebut tidak harus memenuhi porsi akademik untuk mendapatkan jalur undangan.

"Harusnya ada prosedur khusus untuk mereka," kata Rochmat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau