Cuaca Ekstrim, 3 Kapal Tenggelam dan 25 Orang Hilang

Kompas.com - 16/03/2012, 08:13 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Sedikitnya tiga kapal tenggelam setelah dihantam badai dan gelombang tinggi di perairan Pekalongan di Jawa Tengah serta perairan Pacitan dan perairan Tuban di Jawa Timur. Sebanyak 25 orang hilang dalam tiga kecelakaan kapal itu. Sementara 17 dari 18 awak KM Serunting 1 yang hilang setelah kapal itu tenggelam di perairan Lampung-Bengkulu pekan lalu, hingga kemarin, belum ditemukan.

Kapal penangkap ikan, Kapal Motor (KM) Lintas Negara, Rabu (14/3/2012) siang, tenggelam 100 mil laut (180 kilometer) utara Pekalongan. Kapal pembawa 20 awak kapal itu diduga tenggelam di perairan Karimunjawa setelah hilang kontak sesaat seusai diterpa gelombang tinggi.

Kepala Kantor SAR Semarang S Riyadi mengatakan, Ketua SAR Pekalongan menginformasikan, kapal milik H Kosim, penduduk Karanganyar, Kabupaten Rembang, Jateng, itu melaut Senin lalu dan hilang kontak Kamis kemarin.

Badan SAR Nasional langsung menyiarkan kejadian tersebut melalui Stasiun Radio Pantai Semarang kepada semua kapal yang melintasi Laut Jawa agar bisa membantu awak kapal naas itu.

Menurut Komandan SAR Wilayah Pekalongan Hengky Susilo Hadi, kapal berbobot mati 15 ton itu diduga tenggelam, Rabu, berdasarkan laporan nelayan yang melihat kecelakaan itu.

Di perairan Tuban, lima dari tujuh awak Kapal Layar Motor Haslan 02 hilang dan masih dalam pencarian setelah kapal tersebut diterjang gelombang, Kamis. Dua awak kapal yang selamat adalah Daryono (nakhoda) dan Kasrun (koki).

Kepala Syahbandar Tanjung Perak, Surabaya, Chris P Wanda mengatakan, kelima awak itu hilang setelah kapal pecah dihantam gelombang di tengah laut. Mereka adalah Tamid, Syamsuri, dan Surip (ketiganya juru mudi), Agil Fatoni (juru mesin), serta Widyo (pembantu juru mesin).

Di Kabupaten Pacitan, sebuah kapal nelayan tenggelam dihantam ombak. Herman, nakhoda kapal asal Sinjai, Sulawesi Selatan, bersama tiga anak buahnya selamat meski ketiga anak buahnya, Bobo, Aji, dan Johan, cedera.

KM Puteri 01 yang berlayar dari Pelabuhan Tamperan, Pacitan, Selasa, untuk memasang rumpon di tengah laut, diterjang gelombang saat berada 70 mil laut (129 km) dari pantai dan tenggelam. Namun, empat awak kapal tersebut diselamatkan nelayan dari Pantai Prigi, Trenggalek.

Penyeberangan

Cuaca buruk dan gelombang tinggi juga mengakibatkan penyeberangan kapal Jawa-Bali di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, ditutup selama tiga jam pada pukul 11.30-14.30. Akibatnya, terjadi antrean panjang mobil dan truk yang menunggu diseberangkan ke Gilimanuk, Bali, Kamis siang hingga sore.

Manajer Operasional Pelabuhan Ketapang Saharudin Koto mengatakan, saat itu Selat Bali dilanda angin kencang.

Koordinator Badan SAR Nasional Pos SAR Lampung Andri Andi mengatakan, 17 dari 18 korban tenggelamnya KM Serunting 1 di perairan barat Lampung-Bengkulu, hingga kemarin, belum ditemukan. Tim SAR tetap belum menemukan ke-17 awak kapal yang tenggelam di perairan Bengkulu, pekan lalu, itu.

Antrean panjang truk terjadi di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa. Sejak tiga hari lalu, Administratur Pelabuhan Trisakti melarang kapal berlayar karena tingginya gelombang di Laut Jawa.(WER/NIK/JON/ETA/NIT/WIE/SON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau