Properti

Perumahan Rakyat Butuh Terobosan

Kompas.com - 16/03/2012, 08:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Program rumah bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah dinilai semakin redup. Stagnasi pasokan, kenaikan harga rumah, dan rendahnya daya beli masyarakat dikhawatirkan membuat program perumahan rakyat semakin tidak efektif.

Pengamat properti, Panangian Simanungkalit, di Jakarta, Jumat (16/3/2012), mengemukakan, keberhasilan program perumahan rakyat belum terbukti.

"Program rumah bersubsidi semakin redup. Tanpa terobosan, jangan harap program ini tepat sasaran untuk merumahkan rakyat kecil," ujarnya.

Pasar properti sedang meningkat, tetapi tidak ada peningkatan signifikan untuk pasokan rumah bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sementara itu, program rumah sejahtera susun atau dulu dikenal dengan rumah susun sederhana milik (rusunami) terhenti sejak tahun 2010.

Kebijakan baru pemerintah yang menetapkan luas minimum rumah bersubsidi 36 meter persegi dinilai menyalahi prinsip rumah tumbuh yang berkembang selama ini. Ia mengemukakan, pemerintah harus segera membuat terobosan kebijakan yang berpihak kepada rakyat, yakni melakukan sinergi dengan pemerintah daerah, pengembang, dan perbankan untuk menentukan kesepakatan bangunan tipe minimal rumah, biaya izin, dan kredit konstruksi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau