TEGAL, KOMPAS.com — Puluhan mahasiswa Universitas Pancasakti Tegal yang tergabung dalam Forum Pemberdayaan Mahasiswa dan Masyarakat UPS, bersama dengan Paguyuban Pekerja Penarik Becak Halmahera Kota Tegal, berunjuk rasa di halaman Kantor DPRD Kota Tegal, Jumat (16/3/2012). Mereka menolak rencana kenaikan harga bahan bakar minyak dan meminta DPRD Kota Tegal mendukung penolakan tersebut.
Para mahasiswa dan tukang becak datang dengan berjalan kaki dan mengendarai becak. Tanto Ardiansyah, peserta unjuk rasa, mengatakan, kenaikan harga BBM hanya akan menyengsarakan rakyat kecil karena dipastikan akan berpengaruh terhadap kenaikan harga bahan pangan.
Oleh karena itu, para mahasiswa menolak rencana kenaikan harga BBM tersebut. Mahasiswa meminta agar DPRD Kota Tegal sepakat ikut menolak kenaikan harga tersebut, dan mengirimkan surat penolakan kepada presiden.
Ujang (40), tukang becak, mengatakan, kenaikan harga BBM akan meningkatkan beban rakyat kecil seperti dirinya. Sebagai tukang becak yang biasa melayani mahasiswa dan pelajar, ia tidak mungkin menaikkan tarif.
Selama ini, lanjutnya, penghasilannya sebagai tukang becak hanya Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per hari. Padahal, ia harus menghidupi keluarga dengan empat naik. "Kalau harga BBM naik, kami harus bagaimana? Kami juga tidak mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan tidak memiliki kartu jaminan kesehatan," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang