11 Fakta "Solo Sex"

Kompas.com - 17/03/2012, 18:48 WIB

KOMPAS.com - Kepuasan bercinta tak hanya bisa Anda dapatkan dari pasangan. Anda juga bisa "beraksi" memuaskan diri sendiri. Simak 11 fakta tentang solo sex ini.

1. Solo sex sama dengan masturbasi.
Solo sex ialah cara mencapai kepuasan bercinta tanpa kehadiran pasangan. Banyak yang menganggapnya sebagai perilaku seks menyimpang. Faktanya, menurut penuturan Dr Deidre dalam The Sun, ini merupakan hal normal yang kerap dialami perempuan maupun pria. Hanya saja, sebagian perempuan enggan untuk membicarakan atau melakukannya karena malu atau takut.

2. Banyak cara yang digunakan untuk masturbasi.
Menggunakan jari dan vibrator merupakan metode yang paling banyak digunakan perempuan dalam bermasturbasi. Hasil survei yang dilakukan oleh Debby Herbenick, direktur Center for Sexual Health Promotion Indiana University terhadap 2.056 perempuan usia 18-60 tahun menyatakan, lebih dari 50 persen responden menggunakan vibrator, sebagian menggunakan jari, dan ada pula yang menggunakan ujung sikat gigi, hingga gagang sisir rambut. Walau begitu, beberapa pakar lain mengkhawatirkan terjadinya infeksi akibat pemilihan dan pemakaian alat yang tidak higienis dan aman.

3. Menggunakan vibrator itu normal.
Masturbasi dengan vibrator terbilang normal dengan catatan hanya sesekali melakukannya. Menurut psychoanalyst Dr Frank Sommers, terlalu sering menggunakan vibrator bisa menimbulkan efek samping, salah satunya membuat Anda kebal terhadap rangsangan yang diberikan pasangan. Kata lainnya, vibrator dinilai lebih memuaskan dibandingkan Mr P.

4. Dampak positif bagi kesehatan.
Bola dilakukan dengan cara yang tepat, masturbasi atau solo sex ternyata memberi dampak positif bagi kesehatan tubuh. Yakni mampu memperbaiki mood, mengurangi stres, dan membuat tidur lebih nyenyak. Seperti yang diungkapkan Kathleen Segraves, sex therapist dari Metrohealth Medical Center Ohio, solo sex membuat kita lebih fokus dengan kepuasan sendiri dibanding terus memikirkan kepuasan pasangan.

5. Disarankan oleh beberapa pakar.
Bagi perempuan yang sulit mencapai orgasme saat bercinta dengan pasangannya, beberapa pakar menyarankan untuk melakukan seks solo demi kehidupan seks yang lebih baik. Seperti dilansir Journal of Sexual Medicine, vibrator bisa membantu perempuan dalam meningkatkan gairah, memperbaiki pelumasan vagina, dan mengurangi rasa sakit yang sering dialami saat berhubungan seksual.

6. Bisa mengurangi rasa sakit.
Masturbasi bisa mengurangi keram perut saat menstruasi dan mood jelek saat PMS, seperti perasaan ingin marah-marah hingga bad mood. Di sisi lain, banyak yang percaya kalau masturbasi bisa menjadi penyebab migrain. Namun beberapa pakar percaya, orgasme (baik melalui seks solo atau dengan pasangan) bisa mengurangi rasa sakit akibat migrain atau sakit kepala.

7. Menggunakan air liur berbahaya.
Tim peneliti dari University of Michigan menyebutkan, menggunakan air liur sebagai pelumas saat melakukan seks solo dengan jari (membasahi jari dengan air liur sebelum dimasukkan ke dalam vagina) berisiko tinggi terkena infeksi jamur. Pasalnya, cara ini bisa mengganggu keseimbangan bakteri di mulut rahim. Sebaiknya, pastikan jari dalam keadaan bersih, tak ada bagian kuku yang tajam, serta gunakan pelumas yang terjamin keamanannya. 

8. Nonton film bisa memicu orgasme.
Masturbasi ternyata bisa dicapai tanpa menyentuh diri sendiri atau menggunakan alat bantu. Begitulah hasil studi yang dilakukan beberapa peneliti dari Rutgers University. Setelah meminta para responden membayangkan adegan mencapai kepuasan dengan pasangan, atau menonton film yang bisa memicu rangsangan dengan menggunakan alat MRI, hasil scan memperlihatkan kalau otak mereka berfungsi sama seperti saat orgasme dengan pasangannya.

9. Pemicu jerawat.
Masturbasi bisa menjadi pemicu timbulnya jerawat bagi sebagian perempuan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari University Clinic Essen Germany, menunjukkan rangsangan seksual bisa meningkatkan produksi hormon testosteron yang bisa memicu jerawat.

10. Merusak selaput dara.
Bagi mereka yang tak pernah melakukan hubungan seksual sebelumnya, seks solo dengan penetrasi berisiko merobek selaput dara. Namun, kelenturan selaput dara tiap perempuan berbeda, dari yang mudah robek hingga sangat lentur.

11. Sejak Romawi kuno.
Konon, seks solo diyakini sudah ada sejak masa Romawi Kuno dengan sebutan Ophidicism. Yakni masturbasi yang dilakukan oleh beberapa perempuan dengan memasukkan ekor ular atau belut ke dalam vagina, dan mencapai kepuasan saat ekor itu bergerak. Cara ini bisa menyebabkan kematian di samping menjadi satu bentuk penyimpangan seksual.

(Ayunda Pininta Kasih)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau