BATAM, KOMPAS.com — Harga sebagian bahan makanan di Batam, Kepulauan Riau, mulai naik menjelang kenaikan harga BBM. Sementara awak angkutan umum mempertimbangkan kenaikan tarif minimal 16 persen.
Di Pasar Induk Jodoh, kenaikan bervariasi hingga mencapai 30 persen. Harga sebutir telur naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.200 atau naik 20 persen. Adapun harga ayam potong sudah naik Rp 2.000 dari Rp 24.000 menjadi Rp 26.000 per kilogram atau naik 8.3 persen. Sementara harga aneka sayur-mayur melonjak hingga 30 persen.
"Kemarin beli masih Rp 2.000 seikat, sekarang pedagang jual bayam Rp 3.000 seikat," ujar Vani, salah seorang pembeli, Minggu (18/3/2012).
Para pedagang beralasan harga dari pemasok sudah naik. Karena itu, mereka terpaksa menaikan harga jual. "Katanya antisipasi harga BBM mau naik. Kami juga kaget karena kemarin-kemarin dari pemasok belum ada kenaikan harga," ujar Hasan, salah seorang pedagang.
Sementara awak angkutan umum mempertimbangkan kenaikan tarif rata-rata Rp 1.000. Meski terkesan kecil, kenaikan itu setara 16 persen dari tarif awal yang rata-rata Rp 6.000 per penumpang.
"Kalau harga BBM naik, kami keberatan dengan tarif lama. Kalau bisa tarif naik juga jadi Rp 7.000," ujar Rusdi, salah seorang pengemudi rute Jodoh-Nongsa.
Kenaikan itu dinilai paling tepat. Sebab, para pengemudi tidak yakin ada kompensasi bagi mereka setelah harga BBM naik. Sampai sekarang, pemerintah belum menyebutkan apa kompensasi bagi angkutan umum. "Katanya memang mau dikasih. Tetapi, sampai sekarang kami belum dengar mau dikasih apa. Kalau BLT lagi, tidak sebanding," tuturnya.
Ketua Yayasan Pendidikan Maritim Indonesia Nada F Soraya mengatakan, pemerintah harus memberi subsidi angkutan laut. Sebab sebagian besar bahan makanan dan aneka barang lain diangkut dengan angkutan laut. "Prioritas subsidi untuk angkutan sembako. Kalau tidak ada subsidi, bisa saja harga sembako naik gara-gara biaya angkut bertambah," tuturnya.
Selama ini, angkutan laut tidak mendapat subsidi. Karena itu, biaya transportasi barang bisa melonjak saat harga BBM subsidi naik hingga 33 persen dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter.
Sementara itu di berbagai SPBU di Batam tidak terlihat antrean panjang pembeli BBM. Antrean di berbagai SPBU di kawasan Batam Center, Nagoya, dan Batu Ampar, masih di bawah 5 mobil atau 10 motor. Hanya di kawasan Batu Aji dan Tanjung Uncang ada antrean lebih dari 15 sepeda motor. Namun, menurut warga hal itu masih normal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang