Kuba Menangkap Aktivis HAM Menjelang Kunjungan Paus

Kompas.com - 19/03/2012, 11:53 WIB

HAVANA, KOMPAS.com - Polisi Kuba menahan lusinan aktivis oposisi, seminggu menjelang kunjungan Paus Benediktus XVI. Kebanyakan yang ditahan adalah anggota kelompok Perempuan dalam Putih, yang mendesak pembebasan tahanan politik. Mereka dihentikan saat menggelar aksi diam di sepanjang jalan di ibukota, Havana.

Kelompok ini mengatakan otoritas negara Komunis semakin meningkatkan tekanan terhadap pergerakan mereka dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah Kuba menyebut gerakan mereka didanai pemerintah AS untuk merusak revolusi Kuba.

Perempuan dalam Putih atau Damas de Blanco biasanya melakukan aksi bersama dan kemudian menggelar demonstrasi mendesak pembebasan semua tahanan politik.

Pemimpin ditangkap

Seorang juru bicara kelompok ini mengatakan 19 anggota mereka ditahan Sabtu (17/3/2012) malam ketika mencoba untuk menggelar aksi demo di pusat Havana. Tiga diantaranya sudah dibebaskan tanpa ada tuntutan.

Hari Minggu, polisi menahan lagi 36 anggota kelompok ini termasuk ketuanya Bertha Soler saat mereka mencoba untuk tetap menggelar aksi massa di Havana.

Sebanyak 22 perempuan dan dua lelaki juga ditangkap saat mereka menuju pusat kota dengan melalui rute di luar yang ditentukan otoritas. Saksi mata mengatakan mereka dimasukan ke dalam sebuah bus oleh petugas polisi tak berseragam. Tetapi mereka kemudian dibebaskan.

Wartawan BBC di Havana melaporkan bahwa aksi demo di Kuba semakin meningkat menjelang kunjungan Paus dan hal ini mendapat reaksi dari pemerintah.

Elizardo Sanchez, dari Komisi Hak Asasi Manusia Kuba, yang dilarang tetapi masih ditoleransi, mengutuk penangkapan tersebut.

"Akhir pekan ini kembali terjadi tekanan politik dari pemerintahan totaliter," katanya. "Bagian terburuk adalah korbannya kebanyakan perempuan."  Dia mengatakan tidak jelas dimana mereka ditahan.

Hak Asasi Manusia

Saat berkunjung ke Kuba, Paus Benediktus XVI akan mengangkat isu HAM. Penahanan berlangsung seminggu sebelum kunjungan Paus Benediktus di Kuba. Dalam kunjungannya ini dia diperkirakan akan mengangkat isu HAM dengan pemerintahan Komunis.

Angel Moya, seorang pembangkang Kuba dan mantan tahanan politik mengatakan bahwa kunjungan Paus tidak akan membawa pembebasan bagi Kuba.  "Kedatangan Benediktus XVI hanyalah sebuah kunjungan keagamaan, dengan pesan tentang cinta, dengan pesan rekonsiliasi, dengan pesan Kristen," katanya. "Oleh karena itu dia bukan pembebas Kuba. Pembebas Kuba adalah warga Kuba sendiri."

Hari Minggu kemarin merupakan perayaan sembilan tahun penangkapan 75 lawan politik pemerintah Kuba.

Gereja Katolik Roma berperan serta dalam pembebasan para lawan politik tersebut pada tahun 2010, setelah aksi demo dari para istri dan saudara perempuan mereka. Gerakan ini kemudian dikenal dengan sebutan Perempuan dalam Putih, kelompok yang awalnya dibentuk sebagai suara bagi lawan politik yang ditahan ini kemudian berkembang dengan mengusung isu HAM.

Awal tahun ini mereka menerima penghargaan Pembela HAM dari pemerintah AS. Aksi Perempuan dalam Putih sering mengalami pelecehan dari para pendukung pemerintah.

Otoritas Kuba mengatakan tindakan tersebut merupakan reaksi spontan dari warga yang melawan "tentara bayaran, yang didanai AS," tetapi oposisi menyebut mereka digerakan pemerintah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau