Anak Kecanduan Rokok Berontak di Komnas PA

Kompas.com - 19/03/2012, 17:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menerima seorang anak bernama IH (8) asal Sukabumi yang diketahui mengalami adiksi tembakau tingkat tinggi sejak umur 4 tahun.

Anak tersebut akan mendapat rehabilitasi medis dan psikologis hingga kondisi pulih.

Ia datang ke Komnas PA sekitar pukul 12.30 WIB didampingi oleh kedua orangtuanya Umar (40) dan Rena (35) serta Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah Sukabumi, Dr. Adrialti Syamsul.

Sebelum proses penyerahan IH untuk direhabilitasi, sang anak sempat dibawa ke ruangan khusus. Namun, ia langsung berontak sambil berteriak, "Mana rokoknya, mana rokoknya."

Peristiwa tersebut pun menarik perhatian para wartawan yang sebelumnya memang menunggu kedatangan bocah tersebut. Ulah bocah tersebut pun membuat sang orang tua dan para staf Komnas PA kewalahan.

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait pun sempat mendapat tamparan di wajahnya karena perilaku agresif IH saat dibujuk untuk bersikap tenang.

Akhirnya, Arist pun menugaskan stafnya untuk membawa sang anak untuk dibawa ke suatu tempat agar kondisinya tenang.

Sebungkus rokok yang disembunyikan di dalam mobil pun berhasil didapat sang anak. Setelah berhasil menggenggam sebungkus rokoknya, perilakunya pun mulai tenang.

Arist mengungkapkan, perilaku si bocah yang cenderung agresif tersebut merupakan akibat dari zat adiktif pada tembakau.

"Dia langsung berontak di luar dugaan kita. Sejak awal kita tidak mau memberikan rokok. Tadinya saya di dalam dan enggak mau diekspos. Tahunya dia keluar. Ini sudah bukan masuk ke dalam adiksi saja tapi sudah seperti sakaw," ujarnya.

Arist melanjutkan, IH akan mendapatkan rehabilitasi selama 1 bulan hingga perilaku adiktif dari tembakaunya pulih. Namun, bukan berarti selesai dalam waktu 1 bulan. Jika dirasa belum mencukupi, Komnas PA akan menambah waktu hingga 5 bulan kedepan hingga IH benar-benar tidak ketergantungan pada rokok.

"Ada 3 tahap. Pertama secara medis dicek segala fungsi organ dalamnya, terapi psikologis pun akan dilakukan, serta penyiapan kondisi orang tua dan lingkungan agar dia tidak balik lagi. Satu bulan itu terapi saja, bukan selesai terus pulang," lanjutnya.

Arist berpendapat, selain efek kecanduan zat yang ada di dalam tembakau, salah satu yang berkontribusi menyebabkan perilaku sang anak menjadi agresif adalah lingkungan, termasuk iklan rokok.

"Ada lingkungan yang mempegaruhi, salah satunya juga masifnya iklan rokok, jadi dia itu korban iklan rokok. Saya sudah survey ke lingkungannya, orang tuanya merokok, lingkungannya juga," lanjutnya.

Menurut catatan Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, sang anak menderita gizi buruk dengan berat badan hanya 18 kg, ia juga pernah bersekolah selama 5 bulan namun dikeluarkan sekolah.

Selain itu untuk memenuhi hasratnya merokok, IH kerap berhutang di warung. Ia pun pernah mencuri barang jika tak memiliki uang untuk membeli rokok.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau