Batubara Harus Ditempatkan sebagai Sumber Energi

Kompas.com - 19/03/2012, 22:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mayoritas hasil produksi batubara nasional diekspor ke mancanegara. Hal ini disebabkan batubara selama ini dipandang hanya sebagai komoditas pertambangan.

Untuk itu, menurut Ketua Umum Ahli Pertambangan Indonesia Irwandy Arief, pemerintah harus menempatkan batubara sebagai sumber energi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan rasio elektrifikasi nasional.

"Batubara adalah satu-satunya material berunsur karbon selain minyak bumi. Seiring menipisnya cadangan minyak bumi, batubara mesti ditempatkan sebagai sumber energi," kata Irwandy pada pembukaan konferensi batubara Indonesia ke-4, Senin (19/3/2012), di Jakarta.

Pemerintah memproyeksikan, jumlah total produksi nasional tahun ini 332 juta ton. Melihat pertumbuhan izin usaha pertambangan (IUP) skala kecil-menengah didominasi tambang batubara, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memproyeksikan jumlah total produksi batubara nasional 380 juta ton.

Namun demikian, peningkatan produksi batubara tidak diikuti jumlah yang sama terhadap peningkatan kebutuhan batubara. "Kebutuhan produksi nasional tahun ini baru 82 juta ton," kata Irwandy.

Bahkan, proyeksi total kebutuhan batubara nasional untuk sepuluh tahun ke depan (PLN, industri semen dan industri lain) diproyeksikan baru 150 juta ton, jauh dari total produksi yang diperkirakan mendekati 500 juta ton.

Kepala Divisi Batubara PT PLN, Helmi Najamuddin, menyatakan, keterlambatan pengoperasian sejumlah PLTU batubara milik PLN maupun swasta menyebabkan kebutuhan batubara nasional di bawah kuota. Pada tahun 2011, wajib pasok domestik (DMO) batubara 64,79 juta ton, tetapi realisasinya hanya 41,9 juta ton.

Pada tahun ini, total konsumsi batubara PLN diperkirakan 54,05 juta ton, dan direncanakan meningkat hingga mencapai 95,3 juta ton pada tahun 2014.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau