Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Manokwari Kukuh Saptoyudho, Senin (19/3), dari 37 kelompok peternak sapi yang dibentuk untuk program budidaya sapi potong di Manokwari, hanya 22 kelompok yang bersedia membeli sapi dari luar Papua Barat. Namun, mereka pun tidak mau 100 persen membeli bibit sapi dari luar Papua.
Kelompok ternak yang bersedia membeli sapi dari luar mensyaratkan, 50 persen dari target pengadaan bibit sapi harus dibeli dari petani lokal. Itu berarti, dari 34 target pengadaan per kelompok, hanya 17 sapi yang dibeli dari luar Papua Barat.
Adapun 15 kelompok lainnya menolak pengadaan bibit dari luar dengan alasan wewenang dan putusan pengadaan bibit sapi adalah di tiap kelompok, bukan wewenang dari dinas pertanian.
”Mereka ingin 50 : 50. Setengahnya harus beli dari daerah sekitar mereka sendiri. Kalau begini, bagaimana populasi sapi di Manokwari bisa cepat bertambah?” ujar Kukuh.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Manokwari Demi Numberi menjelaskan, pengadaan bibit sapi yang tidak sesuai target inilah yang sekarang dihadapi para sarjana masuk desa (SMD) yang bertugas sebagai manajer kelompok peternak sapi. SMD mendapat tekanan dari anggota kelompok yang bersikeras membeli sapi dari peternak lokal karena peternak lokal juga ingin menikmati keuntungan dari pembelian bibit sapi.
Di satu sisi, antara anggota kelompok ternak dan SMD saling curiga dan tidak saling percaya. Padahal, selama setahun, SMD menerima upah berasal dari dana yang dialokasikan pemerintah pusat untuk pengadaan bibit sapi dan biaya operasional. Total dana yang ditransfer langsung kepada tiap kelompok itu adalah Rp 504 juta.
Peternak mematok harga beli sapi lokal sama dengan harga beli sapi dari luar Papua Barat. Saat ini, pengadaan bibit sapi berasal dari Masohi, Kabupaten Seram, Maluku Tengah, dengan harga beli Rp 10 juta, sampai tiba di lokasi peternak. Harga beli sapi lokal yang ditetapkan peternak lokal juga sama, Rp 10 juta, padahal biasanya hanya Rp 4 juta- Rp 5 juta.
Dengan program budidaya sapi potong di Manokwari, ditargetkan terjadi penambahan 1.258 sapi dalam waktu dua tahun. Dengan demikian, hal itu menambah populasi sapi potong di Manokwari yang sudah ada, sebanyak 16.802 ekor (hasil sensus sapi dan kerbau tahun 2010, BPS Papua Barat).
Program yang digagas pemerintah pusat ini juga bertujuan mencapai swasembada daging sapi pada 2014. Namun, percepatan penambahan populasi sapi di Manokwari ini jalan di tempat.
Hingga pertengahan Maret 2012, sudah dilakukan pengadaan 367 bibit sapi. Sebanyak 115 sapi sudah tiba di Manokwari. Namun 4 ekor mati dan 10 ekor masih dikarantina karena diduga terpapar penyakit brucellosis.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kini mengembangkan peternakan sapi perah untuk menyokong kebutuhan susu nasional.
Pengembangan peternakan sapi yang membutuhkan investasi total Rp 1,3 triliun itu sudah dirintis tahun lalu.
Salah satu sentra pengembangan sapi perah yang sudah dibangun di Banyuwangi berada di Kecamatan Licin. Tim Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Kementerian Pertanian, serta konsultan peternakan sapi dari Kanada hari Senin mengunjungi tempat itu.
Di sentra peternakan sapi Desa Tamansari, jumlah sapi perah yang dipelihara warga hingga tahun lalu mencapai 400 ekor. Rencananya, pada tahun ini jumlahnya akan bertambah 400 sapi lagi. Penambahan jumlah ternak sapi akan dilakukan setiap tahun dengan target total mencapai 65.000 ekor.
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Banyuwangi Herus Susanto mengatakan, jenis sapi yang akan dikembangkan adalah sapi lokal dan sapi Kanada.