JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Selasa pagi belum bergerak nilainya masih di posisi Rp 9.170 per dollar AS.
Pengamat pasar uang dari Milenium Danatama Sekuritas, Abidin di Jakarta, Selasa mengatakan, pelaku pasar mengurangi frekuensi perdagangan pasar valuta asing (valas) dikarenakan minimnya sentimen. "Investor uang wait and see, minimnya sentimen baru membuat pelaku mengurangi transaksi di pasar uang," ujarnya.
Rupiah telah terapresiasi terhadap dolar AS sejak pekan lalu, pergerakan nilai tukar domestik bukan dipicu oleh data, namun lebih disebabkan oleh faktor-faktor teknikal. "Rupiah masih mempunyai potensi pelemahan, namun rupiah diperkirakan juga akan mendapatkan dorongan seiring masih masuknya dana asing ke dalam negeri," katanya.
Ia menambahkan, nilai tukar dalam negeri diporyeksikan akan memperoleh dorongan jika indeks harga saham gabungan (IHSG) berada dalam area positif. Abidin memperkirakan, Bank Indonesia (BI) juga masih menjaga nilai tukar rupiah agar terus berada di bawah kisaran Rp 9.200 per dollar AS.
Analis Monex Investindo Futures Johanes Ginting menambahkan, ketegangan di negara kawasan Eropa nampak tengah mereda, spekulan masih tetap berpandangan "bearish" (pelemahan) terhadap Eropa seiring dengan beberapa investor uang telah memangkas sebagian posisi jualnya. "Data ekonomi penting dalam beberapa hari mendatang minim, berarti hanya akan ada sedikit peluang bagi investor untuk mengevaluasi perekonomian AS dan global, sehingga laju pergerakan mata uang mungkin masih minim," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang