Pelanggaran HAM dan Kekerasan Masih Terjadi di Myanmar

Kompas.com - 20/03/2012, 11:53 WIB

BANGKOK, KOMPAS.com - Organisasi non pemerintah pemantau hak asasi manusia dunia, (Human Rights Watch (HRW), memastikan praktik intimidasi, kekerasan, dan kebrutalan yang terjadi dan dilakukan militer Myanmar masih terus berlangsung hingga saat ini terutama yang baru saja terjadi di kawasan konflik di sebelah utara dekat perbatasan China, tempat etnis minoritas Kachin berada.

Menurut Elaine Pearson, Wakil Direktur Asia HRW di Bangkok, Thailand, Selasa (20/3), menyatakan masih sama dengan yang terjadi di masa pemerintahan Junta Militer, tentara negeri itu menyerang rakyat sipil, menyerbu rumah-rumah tinggal, dan memperkosa sejumlah perempuan.

"Jalan masih sangat panjang, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan terpencil dan juga daerah konflik, untuk bisa merasakan keuntungan yang dijanjikan dari proses reformasi saat ini di negeri itu. Komunitas internasional sudah seharusnya tidak cepat berpuas diri dan terus memantau berbagai praktik pelanggaran HAM serius yang masih terus mewabah di sejumlah kawasan di sana," ujar Pearson.

Pertempuran di kawasan Kachin yang pecah untuk pertama kalinya Juni kemarin, sejak hampir dua dekade terakhir, semakin menunjukkan adanya kekontrasan jika dibandingkan dengan sikap pemerintah Myanmar yang saat ini disebut-sebut terus membuka dan bersedia mereformasi diri menuju demokratisasi.

Kekacauan dan perlawanan terus berlanjut walau Presiden Thein Sein telah memerintahkan angkatan bersenjata negeri itu untuk menghentikan tembakan dan kemudian diikuti proses negosiasi menuju gencatan senjata dan perdamaian.

Pihak HRW mengaku telah berhasil mendokumentasikan sejumlah peristiwa pembunuhan oleh militer terhadap warga sipil di sana. Para prajurit Myanmar mengancam dan menyiksa para warga sipil saat mereka menginterogasi para penduduk itu untuk mencari informasi tentang para pemberontak.

Mereka memaksa seorang jompo berusia 70 tahun untuk mengangkut barang-barang berat militer di bawah todongan senjata sementara para pemuda Kachin, termuda berusia 14 tahun, dipaksa bertempur di garis depan untuk para prajurit militer Myanmar tadi.

Secara serampangan militer Myanmar juga menembaki warga sipil Kachin, baik dengan senjata ringan maupun mortir.

Dari kesaksian salah seorang staf HRW yang melakukan perjalanan dua kali ke kawasan Kachin pada tahun 2011, mengunjungi sembilan kamp tawanan dan mewawancarai 100 orang dari mereka, mengaku menemukan sejumlah fakta mengerikan.

Dari salah seorang korban, yang diidentifikasi bernama M Seng, dia mengaku dipaksa bekerja menjadi porter atau pengangkut barang pasukan militer selama 19 hari. Ketika itu dia mengaku melihat sendiri dua perempuan etnis Kachin ditawan dan diperkosa, dijadikan sebagai budak pemuas nafsu para prajurit itu.

Namun begitu, tidak hanya militer Myanmar, pihak pemberontak yang menamakan diri mereka Tentara Kemerdekaan Kachin, juga memaksa anak-anak bertempur untuk mereka. Banyak pula dari anak-anak itu yang dipaksa bekerja menanam ranjau.

Hingga saat ini konflik di kawasan itu telah memaksa sedikitnya 75.000 orang warga sipil mengungsi dan menderita kelaparan serta kekurangan obat-obatan. Bantuan internasional pun diketahui selama ini sulit masuk ke wilayah itu. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau