Polisi Perancis Kepung Tersangka Serangkaian Penembakan

Kompas.com - 21/03/2012, 14:41 WIB

TOULOUSE, KOMPAS.com - Puluhan petugas polisi Perancis mengepung sebuah rumah di dekat Toulouse, Rabu (21/3/2012), dini hari. Mereka mencoba untuk membujuk tersangka dalam serangkaian penembakan mematikan, termasuk yang di sebuah sekolah Yahudi, untuk menyerahkan diri.

Menurut polisi, segera setelah mereka melancarkan operasi khusus pada pukul 03.30 waktu setempat, tembakan terdengar dari dalam dan melukai dua petugas.

Tersangka berusia 24 tahun yang belum diungkapkan namanya itu tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah meski pengepungan sudah berlangsung berjam-jam. Polisi lalu mencoba untuk menghadirkan ibu tersangka agar berbicara dengan dia, tetapi sang ibu menolak. Ibu itu mengatkan, dirinya hanya punya sedikit kontak dengan anaknya itu, kata Menteri Dalam Negeri Perancis, Claude Gueant, kepada wartawan.

Saudara si tersangka berada di dalam rumah di distrik Croix-Daurade di Toulouse. Menurut para pejabat, ia ditangkap.

Menurut Gueant, tersangka adalah warga Perancis asal Aljazair yang telah menghabiskan cukup banyak waktunya di Afganistan dan Pakistan. Para pejabat mengatakan, pria itu merupakan anggota kelompok jihad, Forsane Alizza, atau Knights of Glory. Pemerintah Perancis melarang kelompok itu pada Januari karena berusaha merekrut orang untuk berperang di Afganistan.

Para pejabat tidak mengatakan, apakah orang itu termotivasi oleh kehadiran tentara Perancis di Afghanistan. Perancis memiliki sekitar 4.000 tentara yang mendukung misi NATO di sana. Pemerintah negara itu telah mengatakan akan menarik mereka keluar Afganistan pada tahun 2013.

Penembakan di sebuah sekolah, Ozar HaTorah, Senin lalu merupakan serangan mematikan ketiga terhadap kaum minoritas di Perancis barat daya dalam waktu kurang dari dua minggu. Seorang pria yang memakai helm sepeda motor dan mengendarai skuter berhenti di depan sekolah itu dan menembak seorang guru dan tiga anak, dua dari mereka adalah anak dari guru tersebut. Korban lainnya, putri direktur sekolah itu, tewas di depan ayahnya.

Penembakan itu menyusul dua serangan lain, yang menurut polisi, menggunakan senjata yang sama. Dua serangan sebelumnya menewaskan tentara Perancis asal Afrika Utara dan Karibia pada tanggal 11 dan 15 Maret.

Setelah serangkaian serangan itu, Perancis menaikkan level siaga ke zona merah, level tertinggi di negara itu, dan melancarkan perburuan intensif terhadap tersangka. Rabu dini hari, polisi melacak tersangka di sebuah rumah yang hanya berjarak beberapa mil jauhnya dari sekolah Yahudi yang telah diserang itu.

Sementara itu, jenazah empat korban di sekolah itu telah tiba di Israel. Mereka dikuburkan di Yerusalem pada Rabu pagi. Keputusan untuk mengirim jenazah-jenazah itu ke Israel dibuat berdasarkan keyakinan mereka, kata Konsistori Paris, sebuah kelompok yang mewakili komunitas Yahudi. Perancis memiliki populasi Yahudi terbesar di Eropa.

Sebagai penganut Yahudi, pemakaman para korban di tempat kelahiran Yudaisme memastikan bahwa jenazah mereka tidak akan diganggu, kata konsistori atau dewan itu. Empat puluh persen penganut Yahudi Perancis dimakamkan di Israel, kata dewan itu lagi.

Guru yang tewas itu lahir dan dibesarkan di Bordeaux, Perancis, tetapi ia belajar Yudaisme di Israel. Ia menikah dan memiliki anak sebelum kembali mengajar di sekolah Toulouse itu, kata dewan Yahudi tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau