Distribusi bbm

Truk Besar Dilarang Isi BBM di SPBU Dalam Kota

Kompas.com - 21/03/2012, 18:36 WIB

BALIKPAPAN, KOMPAS.com — Larangan kendaraan roda enam arau  lebih untuk mengisi BBM solar di dalam Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, yang masih bersifat sementara, harus segera ditetapkan permanen. Cara itu akan mengurangi antrean BBM di dalam kota, yang bisa memunculkan potensi kemacetan lalu lintas.

Demikian dikatakan Ketua Komisi II DPRD Balikpapan Patly Parakkasi, seusai inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa SPBU di Balikpapan, Rabu (21/3/2012).

Menurut dia, keputusan sementara pemkot melarang kendaraan roda enam atau lebih itu untuk mengisi BBM di dalam kota terbukti efektif dalam dua hari terakhir ini. Salah satu indikasinya, antrean tak lagi panjang. Hasil sidak hari ini menunjukkan efektivitas kebijakan sementara pemkot.

"Karena itu, kami mendorong pemkot segera menetapkan aturannya," katanya.

Empat hari dan tiga hari lalu, antrean BBM sangat panjang di setiap SPBU. Lalu, pemkot mengeluarkan kebijakan bahwa SPBU di dalam kota hanya untuk kendaraan roda empat ke bawah. Dengan kata lain, truk dan tronton harus mengisi solar di SPBU luar kota.

Antrean di SPBU dalam kota menjadi panjang karena sebagian truk yang putus asa mengantre di SPBU luar kota, menyerbu SPBU-SPBU di dalam kota.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau