Tersangka Rangkaian Penembakan Menyesal Tak Bunuh Lebih Banyak Orang

Kompas.com - 22/03/2012, 02:52 WIB

TOULOUSE, KOMPAS.com — Seorang pria bersenjata yang dikepung karena diduga menembak mati tujuh orang di Toulouse mengatakan kepada pihak kepolisian bahwa dirinya ingin mengacaukan Perancis. Pria yang mengklaim dirinya adalah pengikut Al Qaeda itu mengaku, satu-satunya penyesalan dirinya adalah tak mampu membunuh lebih banyak orang lagi sesuai dengan rencananya.

Pada Rabu (21/3/2012) terjadi sebuah drama menegangkan di pinggiran kota Toulouse. Sekitar 300 polisi berpakaian lengkap dengan pelindung tubuh mengepung sebuah bangunan berlantai lima, tempat di mana seorang pria berusia 24 tahun yang diidentifikasi bernama Mohamed Merah bersembunyi.

Pihak berwenang mengatakan, pria bersenjata tersebut, yang merupakan warga negara Perancis asal Aljazair, pernah berkunjung ke Pakistan dan Afganistan. Dia mengatakan bahwa dirinya ke dua negara tersebut untuk mendapatkan pelatihan dari Al Qaeda.

Merah mengatakan kepada polisi yang bertugas sebagai negosiator bahwa pekan lalu dia telah membunuh tiga tentara Perancis serta empat orang di sebuah sekolah Yahudi di Toulouse pada hari Senin. Hal itu dilakukan sebagai aksi balas dendam atas kematian anak-anak Palestina dan karena keterlibatan tentara Perancis di Afganistan.

"Dia tidak menyesal, kecuali karena tak bisa membunuh lebih banyak orang lagi. Dia juga dengan bangga mengatakan bahwa ingin menaklukkan Perancis," ujar jaksa Paris, Francois Molins, yang menjadi bagian dari tim investigasi anti-teroris.

Pria bersenjata itu, yang memfilmkan pembunuhannya dengan kamera kecil, sudah mengidentifikasi tentara lainnya dan dua perwira polisi, yang akan jadi target pembunuhan, ujar Molins. Kini, pria bersenjata tersebut sudah berjanji untuk menyerahkan diri pada malam ini kepada anggota tim elite RAID, yang sudah mengepungnya.

"Dia sudah menjelaskan bahwa dia tidak bunuh diri, bahwa dirinya tak memiliki jiwa martir. Tetapi, dia mengaku sebagai seorang pembunuh, dan ingin tetap hidup," jelas Molins.

Presiden Nicolas Sarkozy, yang sedang bertarung untuk pemilihan ulang pada lima minggu ini, memberikan penghormatan dalam sebuah upacara di barak tentara di Montauban, dekat Toulouse, bagi tiga tentara Afrika Utara yang tewas pekan lalu. Seorang prajurit keempat dari Karibia saat ini sedang koma.

"Tentara kami tidak mati dengan cara yang mereka persiapkan. Ini bukan kematian di medan perang, melainkan eksekusi teroris," ujar Sarkozy, sambil berdiri di depan tiga peti mayat yang ditutupi dengan bendera Perancis, setelah memberikan penghormatan kepada para kerabat yang sedang berduka.

"Kita harus tetap bersatu. Kita harus sama sekali tidak menyerah pada diskriminasi atau pembalasan," ujarnya dalam pidato. "Perancis hanya dapat menjadi besar dalam kesatuan. Kami berutang itu kepada orang-orang ini, kami berutang budi kepada tiga anak yang dibunuh, untuk semua korban."

Sementara Menteri Dalam Negeri Perancis, Claude Gueant, mengatakan bahwa Merah adalah anggota kelompok Islam ideologis di Perancis. Tetapi, organisasi ini tidak terlibat dalam rencana kekerasan apa pun.

Dia mengatakan bahwa Merah telah melemparkan sebuah pistol jenis Colt 45, yang dipakai untuk penembakan dari jendela blok rumah susun, tempat di mana dia tinggal, untuk ditukar dengan ponsel. Akan tetapi, Merah masih bersenjata.

Dua petugas polisi terluka dalam baku tembak dengan pria bersenjata itu, setelah polisi melakukan pengepungan pada pukul 03.00 waktu setempat (02.00 WIB). Pejabat resmi juga mengatakan bahwa selain Merah, polisi pun menangkap pacar Merah dan saudaranya, yang juga merupakan Islam radikal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau