Kenaikan harga bbm

TK: Soal BBM Sudah Ngertilah Jawabannya

Kompas.com - 24/03/2012, 19:16 WIB

PALANGKARAYA, KOMPAS.com- Sebagai Ketua MPR, Taufiq Kiemas menanggapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dengan menyerahkannya kepada pemerintah dan DPR. Akan tetapi, sebagai ketua Dewan Pertimbangan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Taufiq berpendapat lain.

Taufiq di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu (24/3/2012), mengatakan, pemerintah tengah melakukan persiapan untuk menaikkan harga BBM sejak lebih dari sebulan lalu. "Tapi, terserah pemerintah. Terserah DPR juga mau memberikan izin atau tidak. Harus ada persetujuan dua belah pihak," katanya.

Jika DPR tak memberikan persetujuan, harga BBM tentu tak bisa dinaikkan. Pemerintah dan DPR saat ini sedang memasuki proses perdebatan untuk menaikkan harga BBM. Taufiq berpendapat, jika ingin pembangunan yang berkesinambungan, harga BBM harus dinaikkan. Akan tetapi, saat ditanya pendapatnya sebagai ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI-P, Taufiq hanya tertawa dan menjawab singkat.

Para undangan lain seperti Sekretaris Jenderal MPR Eddie Siregar dan Wakil Ketua MPR Ahmad Farhan Hamid pun ikut tertawa mendengar jawaban Taufiq. "Kalau sebagai ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI-P sudah ngertilah jawabannya," ujar Taufiq tanpa menjelaskan lebih jauh pernyataannya itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau