Myanmar

Pemilu yang Menjadi Harapan Besar, tetapi Ada Keraguan

Kompas.com - 26/03/2012, 02:33 WIB

Dalam hitungan sepekan, negeri yang baru berdemokrasi, Myanmar, memasuki babak baru kehidupan perpolitikan. Negara ini menggelar pemilu sela pada 1 April untuk memperebutkan 48 kursi parlemen.

Ini dinilai banyak kalangan, terutama di luar negeri, menjadi parameter ”kemajuan” reformasi negeri itu. Beberapa hari lalu tiba-tiba Pemerintah Myanmar melayangkan ”surat undangan” ke sejumlah negara dan organisasi multilateral, termasuk ASEAN dan PBB, untuk mengirimkan pemantau masing-masing.

Langkah dan kebijakan itu mengundang apresiasi positif, mengingat pada pemilu November 2010 negeri itu sama sekali menutup diri dari pemantau asing. Walhasil, hasil pemilu yang lalu menghasilkan pemerintahan sipil bermasalah. Tokoh oposisi Aung San Suu Kyi dan partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) saat itu memboikotnya.

Menyikapi undangan untuk mengirim pemantau resmi, Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa menyambut gembira meski menyebut undangan itu tidak cukup memberi waktu buat persiapan tim pemantau. Menurut Marty, kemungkinan Pemerintah Indonesia hanya akan menugaskan pejabat atau petugas pemantau dari Kedutaan Besar RI di Myanmar.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Victoria Nuland juga memastikan AS akan memenuhi undangan tersebut.

AS, Uni Eropa, PBB, dan ASEAN diminta mengirim masing-masing tiga jurnalis dan dua orang perwakilan untuk ikut dalam pemantauan. ”Langkah ini adalah langkah awal yang baik. Myanmar sebelumnya melarang keterlibatan pemantau asing. Kami berharap bisa terus melanjutkan keterbukaan di masa mendatang,” tambah Nuland.

Dalam pemilu sela ini, Suu Kyi juga ikut memperebutkan salah satu dari 48 kursi di parlemen. Jika berhasil, untuk pertama kali Suu Kyi akan memiliki suara di pemerintahan Myanmar.

Suara pesimistis

Sikap dan kebijakan terbuka Pemerintah Myanmar kali ini tetap dilanda pesimistis. Mereka meragukan efektivitas pemantauan lantaran mepetnya waktu yang diberikan. Undangan datang tidak lebih dari dua pekan menjelang hari H.

Dengan kondisi itu, banyak pihak, termasuk juga AS, mengaku memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan, apakah pemilu itu akan berlangsung adil dan bebas. Dari situ kemudian dinilai, apakah Myanmar akan mendapat semacam ”hadiah” lagi, terkait pencabutan berbagai macam sanksi.

Salah satu sikap pesimistis disuarakan dari Washington. Aung Din dari kelompok prodemokrasi yang mengampanyekan demokrasi di Burma (Myanmar) di AS cenderung bersikap skeptis pada hasil pemilu sela.

”Saya meragukan bagaimana pemantau internasional bisa mengetahui kecurangan dalam proses pemilu, apalagi mereka hanya diundang beberapa hari saja menjelang pemilu 1 April,” ujar Din.

Din menuduh sepanjang proses pemilu sela telah terjadi berbagai bentuk kecurangan, mulai dari pemalsuan daftar pemilih, politik uang, dan praktik bias yang dilakukan panitia pemilu di daerah-daerah.

Suu Kyi sendiri beberapa waktu lalu mengeluhkan adanya sejumlah praktik kecurangan. Nama orang-orang yang sudah meninggal ada di dalam daftar pemilih. Ada pelarangan mendadak soal penggunaan lapangan untuk kampanye.

Saat berpidato di depan massanya dalam kampanye di Mawlamyaing beberapa waktu lalu, Suu Kyi menyindir sejumlah parpol penguasa yang sengaja mengiming-imingi para calon pemilih dengan berbagai janji, seperti akan membangunkan jalan, jembatan, dan akses listrik ke desa-desa terpencil.

”Kami (Partai NLD) tidak akan menjanjikan sesuatu yang kami tahu tak akan bisa kami penuhi. Mereka menjanjikan akan memasang listrik. Akan tetapi, saat saya berkampanye rakyat tetap datang dan menyambut saya dengan membawa lilin karena desa mereka memang belum diterangi listrik,” ujar Suu Kyi.

Kabar terbaru, pihak komisi pemilu menunda pemilu sela di tiga kawasan dengan alasan keamanan, yakni di Mogaung, Phakant, dan Bamaw. Wilayah ini berada di bawah pemerintahan otonomi etnis Kachin.

Hal itu memicu persoalan baru mengingat di tiga wilayah itu mantan pemimpin dan pejuang organisasi pembebasan Kachin, Tu Ja, dari Mogaung mencalonkan diri sebagai kandidat independen.

Wilayah otonomi Kachin kembali bergolak ketika pertempuran kembali pecah antara tentara pemerintah dan pihak pemberontak etnis Kachin, walau Presiden Thein Sein beberapa waktu lalu telah menyerukan gencatan senjata.

Langkah serupa juga pernah terjadi saat pemilu November 2010 ketika komisi pemilu menghalang-halangi para pemimpin etnis Kachin membentuk partai untuk mencalonkan kandidat. Mereka juga dilarang maju sebagai independen.

Alasan penundaan dan pelarangan juga dikaitkan dengan kondisi keamanan ketika itu. Akibatnya, pemilu 2010 menyisakan sejumlah kursi parlemen yang masih kosong. Penundaan tersebut mengundang reaksi kecewa dari NLD. Juru bicara NLD, Nyan Win, menilai penundaan itu sebagai kebijakan mengejutkan dan mengecewakan.

Pihak NLD mengatakan, di wilayah yang mengalami penundaan pemilu itu perolehan suara untuk mereka justru besar. ”Saya tidak melihat ada ancaman keamanan. Saya sudah berkunjung ke sana dan bisa memastikan itu,” ujar Nyan Win.

Apa benar pemerintah ingin menjadikan pemilu kali ini sebagai keseriusan agar menjadi negara terbuka dan demokrasi?

(DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau