Indonesia Tanpa Radar Prediksi Puting Beliung

Kompas.com - 26/03/2012, 02:44 WIB

Jakarta, Kompas - Angin kencang disertai puting beliung semakin sering terjadi, yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian materiil. Namun, hingga kini, Indonesia belum memiliki radar berkemampuan tinggi untuk memprediksi kejadian puting beliung tersebut.

”Puting beliung dapat diprediksi beberapa jam sebelumnya untuk mengurangi risiko bencana. Puting beliung ini semakin sering terjadi, tetapi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) belum memiliki radar yang mampu memprediksinya,” kata Kepala Pusat Kualitas Udara dan Perubahan Iklim BMKG Edvin Aldrian, Minggu (25/3), di Jakarta.

Menurut Edvin, saat terbentuk awan kumulonimbus, terjadi pemampatan udara yang berpotensi menjadi puting beliung. Kondisi itu sebenarnya dapat diketahui dengan radar.

Kebutuhan terhadap radar semakin mendesak di tengah kian ekstremnya cuaca, seperti saat ini. ”Ekor badai akhir-akhir ini menimbulkan puting beliung, seperti di Nusa Tenggara Timur pada saat badai tropis Lua di perairan Australia. Ini fenomena baru,” katanya.

Badai tropis Lua berlangsung 13-18 Maret 2012. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, puting beliung melanda 51 desa di enam kecamatan di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, 14-17 Maret 2012.

Dua warga meninggal. Sebanyak 1.154 rumah rusak berat, 1.140 rumah rusak ringan, dan 67 rumah rusak kategori sedang.

Lalu, sebanyak 57 sekolah rusak berat dan sembilan unit lainnya rusak sedang. Sebanyak 1.072 pohon cengkeh rusak dengan kerugian Rp 398 juta.

Darurat bencana

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur sudah menetapkan darurat bencana akibat puting beliung pada 21 Maret sampai 3 April 2012.

Menurut Sutopo, rehabilitasi kerusakan rumah penduduk ataupun fasilitas sosial dan sarana pemerintah belum memadai. Masyarakat masih membutuhkan bantuan, terutama material bangunan berupa atap seng/asbes dan paku.

Beberapa puting beliung juga disampaikan Sutopo, di antaranya terjadi di 86 desa di enam kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Selatan pada 19 Maret 2012. Di Kabupaten Batanghari, Jambi, puting beliung merobohkan 61 rumah (20 Maret).

Puting beliung berikutnya melanda Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Kejadiannya berlangsung pada 21 Maret 2012 dengan 19 rumah rusak berat serta 34 rumah rusak sedang dan ringan.

(NAW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau