Kanker usus

Deteksi Dini Berpeluang Sembuhkan Pasien

Kompas.com - 26/03/2012, 07:29 WIB

SEMARANG, KOMPAS - Sebagian besar penderita kanker usus besar berobat ke dokter dalam kondisi parah. Padahal, kanker usus besar bisa dicegah sejak dini dengan melihat gejala umum sehingga penanganannya bisa segera dilakukan.

Demikian disampaikan pakar onkologi hematologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Aru W Sudoyo, dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Ign Riwanto di sela-sela Semarang Hematology-Medical Oncology Update 2012, Sabtu (24/3/2012), di Semarang, Jawa Tengah.

Menurut Aru, gejala kanker usus besar bisa dilihat dari perubahan pola buang air besar (BAB), BAB berdarah, berat badan turun tanpa penyebab jelas, nyeri, dan anemia.

Pada saat seseorang mengalami BAB berdarah, sebaiknya memeriksakan diri ke dokter umum dan meminta dokter melakukan colok dubur. ”Membedakan wasir dengan kanker mudah. Wasir lunak, sedangkan kanker keras,” kata Riwanto.

Selama ini, banyak kasus penyakit kanker usus besar terlambat dideteksi karena saat pemeriksaan awal tak dilakukan colok dubur. Padahal, itu bisa mendeteksi sejak dini.

Mendeteksi kanker usus besar, lanjut Aru, selain pemeriksaan rektal dengan jari, ada cara lain. Di antaranya, pemeriksaan darah dalam tinja, endoskopi/kolonoskopi, pemeriksaan rontgen, CT Scan, dan pemeriksaan DNA tinja (dalam penelitian).

Faktor risiko

Menurut Aru, ada beberapa faktor risiko kanker usus besar, yakni kurang mengonsumsi makanan berserat dan berlemak tinggi, tambah usia, polip pada usus, riwayat kanker usus, serta ditemukan kanker ovarium (indung telur), kanker uterus, dan kanker payudara di keluarga.

Faktor lain, mengidap kolitis (radang usus) ulseratif yang tak diobati, kebiasaan makan daging (merah), kurang mengonsumsi buah-buahan, sayuran, dan ikan, kurang beraktivitas fisik, berat badan berlebih, serta merokok.

Penanganan kanker usus besar, menurut Riwanto, bergantung pada stadium. Jika stadium awal, kanker usus besar bisa diangkat. Semakin dini kanker usus terdeteksi, peluang sembuhnya besar.

Menurut Aru, pembedahan kunci kesembuhan didukung kemoterapi dan radioterapi. ”Dengan syarat-syarat tertentu, kanker usus besar dapat sembuh.”

Kriswandono (53), warga Semarang, menuturkan, setelah kemoterapi enam kali menyusul kanker usus besar yang dialaminya, ia menjalani kehidupan seperti biasa. Namun, ia berhati-hati dalam mengonsumsi makanan. (SON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau