Soal BBM, Anas Minta PDI-P Berekspresi di Parlemen

Kompas.com - 26/03/2012, 19:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Massa dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sejak hari ini, Senin (26/3/2012), turut mewarnai unjuk rasa menolak kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak per April 2012. Siang tadi, massa tersebut tampak menggelar unjuk rasa di Bundaran HI, Jakarta Pusat.

Menurut Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, sebagai sebuah partai politik, sebaiknya PDI-P mengungkapkan aspirasi dan ekspresinya di parlemen ketimbang turut dalam demonstrasi yang ramai dilakukan masyarakat. "PDI-P itu partai besar, punya wakil-wakil di parlemen banyak dan bagus-bagus. Lebih baik ekspresi politiknya, pendirian politiknya, itu disampaikan di praktik politik di parlemen," kata Anas di Jakarta.

PDI-P menjadi salah satu partai yang menolak keras kenaikan harga BBM termasuk melalui fraksinya di DPR RI bersama Partai Gerindra, dan Partai Hanura. Untuk mengungkapkan penolakan keras itu, PDI-P akan melakukan aksi unjuk rasa pada Selasa (27/3/2012) besok. Mereka menamakan unjuk rasa itu dengan "Aksi Nasional Keluarga Besar PDI Perjuangan Menolak Kenaikan Harga BBM". Aksi ini juga akan dilakukan serentak kader PDI-P di seluruh Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau