Yogyakarta

Wanita Pencopet Diamuk Massa

Kompas.com - 27/03/2012, 10:31 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com -  Sri Lestari (42), diamuk massa di Pasar Kranggan, Kota Yogyakarta, saat tertangkap mencopet dompet miliki Hadiyati Suwaldi (60), warga Sinduadi, Sleman, Selasa (27/3/2012). Wanita bertato itu dihakimi massa sekitar pukul 6.30 WIB.

Menurut pihak kepolisian, tersangka adalah pencopet kambuhan yang memang sering mangkal di Pasar Kranggan. "Pelaku amuk massa pedang Pasar Kranggan. Kemudian, personil yang bertugas mengatur lalu lintas langsung mengamankan pelaku dan dibawa markas," kata Kasi Humas Polsek Jetis, Kota Yogyakarta, Aiptu Sugianto.

Di kantor polisi, Sri mengaku mencopet karena desakan ekonomi keluarga. Sri mengatakan, keluarganya membutuhkan uang banyak. "Saya butuh uang untuk menikahkan putri kedua yang saat ini sudah hamil empat bulan. Saya juga butuh uang untuk pengajian tiga harinya adik saya," ujar Sri.

Perempuan bertato itu juga mengatakan, saat diamuk massa dirinya dipukul, dijambak dan ditendang. "Saya terima. Saya mencopet sendirian," ungkap dia.

Korban Hadiyati mengaku mengetahui dompetnya dicopet setelah ada salah seorang pedagang memberitahu. "Saya sedang belanja sayur, tahu-tahu diberitahu oleh salah seorang pedagang pasar bahwa dompet saya di copet orang. Kemudian saya berusaha untuk mengejar," ungkap dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau