Ikut Demo, Walikota Malang Tak Gentar Dipecat Mendagri dan Presiden

Kompas.com - 27/03/2012, 22:25 WIB

MALANG,KOMPAS.com - Demi memperjuangkan aspirasi rakyat, Walikota Malang, Peni Suparto dengan tegas menyatakan, dirinya tak gentar dengan ancaman sanksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kalau walikota ikut dalam aksi tolak kenaikan harga BBM.

"Saya sebagai Walikota Malang, sikap saya tegas. Yakni menolak kenaikan harga BBM. Karena saya berjuang untuk warga Kota Malang. Kenaikan harga BBM itu jelas memberatkan pada rakyat," tegas Peni.

Pernyataan Peni tersebut, disampaikan dalam orasinya saat memimpin aksi di hadapan ratusan massa PDI Perjuangan. Aksi tersebut menolak kenaikan BBM di depan Balaikota Malang, Selasa (27/3/2012). "Sikap saya ini, sesuai dengan aspirasi warga Kota Malang," katanya.

Menurut Peni, yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang itu, dirinya mengaku tak merasa gentar dengan ancaman sanksi yang akan diberikan oleh Mendagri dan Presiden SBY.

"Saya tak takut dipecat oleh Mendagri dan Presiden. Undang-Undang jelas melindungi saya. Sebagai pejabat publik yang dipilih langsung oleh rakyat, saya tak bisa dipecat gara-gara menyampaikan aspirasi," tegas Peni lantang.

Sebelumnya, Mendagri Gamawan Muhammad, memang meminta pada Kepala Daerah, untuk tidak ikut turun melakukan aksi menolak kenaikan harga BBM di daerahnya masing-masing. Lebih lanjut Peni menyampaikan, pihaknya berharap kepada pemerintah pusat, untuk memberikan subsidi BBM sesuai kebutuhan.

"Caranya dengan mengoptimalkan ladang minyak dalam negeri. Serta meninjau ulang kepemilikan perusahaan asing terhadap lapangan minyak, tambang gas dan batu bara," katanya.

Sesuai dengan Undang-Undang Dasar, beber Peni, seluruh kekayaan alam dikuasai oleh Negara untuk kesejahteraan rakyat. Bukan untuk sekelompok orang. "Karenanya, rakyat harus bisa menikmati dan bisa sejahtera dari kekayaan alam yang ada di Indonesia," katanya.

Seharusnya, tambah Peni, jika pemerintah ingin menaikkan BBM, terlebih dahulu melakukan pendekatan pada rakyat untuk mensosialisasikan hal tersebut. "Menurut saya, disisi pendekatan kepada rakyat itulah yang lemah dilakukan oleh pemerintah pusat," jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau