Pandangan ini dikemukakan secara terpisah oleh para pengusaha penggilingan padi serta pedagang beras dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).
Menurut Ketua Umum KTNA Winarno Tohir, Selasa (27/3) di Jakarta, kemampuan maksimal pengadaan beras Bulog dari dalam negeri tahun ini hanya 1,8 juta ton sampai 2,25 juta ton atau antara 40 persen dan 50 persen. Padahal, kebutuhan beras Bulog untuk stabilisasi harga, beras untuk rakyat miskin (raskin), dan cadangan beras nasional ataupun pemerintah sampai 4,5 juta ton.
Rendahnya pengadaan beras Bulog tak lain karena terimbas tingginya harga beras. ”Kalau harga BBM tidak naik, masih mungkin Bulog bisa menyerap hingga 3,15 juta ton atau 70 persen dari target. Dengan BBM naik, tidak akan bisa,” kata Winarno.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras DKI Jakarta Nellys Soekidi mengungkapkan, sekalipun harga pembelian pemerintah dinaikkan, tidak ada jaminan Bulog bisa memenuhi target. Karena yang menjadi rival utama Bulog adalah pedagang.
Pilihan satu-satunya adalah dengan memproduksi beras sebanyak-banyaknya agar surplus produksi cukup untuk menstabilkan harga di pasar. Nellys mengakui produksi beras pada 2012 lebih baik dari tahun 2011, tetapi itu belum cukup.
Indikatornya jelas. Di Jawa Timur, misalnya, panen sudah hampir habis. Begitu pula di Sragen, Jawa Tengah. Pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Billy Haryanto, menyatakan, pihaknya kesulitan membeli beras. ”Kalau panen melimpah, saya bisa menyetok 3.000 ton, sekarang hanya bisa 1.000 ton,” ujarnya.
Karena produksi belum mampu membanjiri pasar, beras menjadi rebutan. Pedagang beras di Demak, Jawa Tengah, mencari beras sampai Jawa Timur. Begitu pula pedagang dari Sragen.
Peningkatan pasokan di daerah sentra ternyata belum mampu menurunkan harga beras secara signifikan. Di sejumlah daerah, harga beras justru masih bergerak naik. Per 22 Maret harga beras medium hasil pantauan Kementerian Perdagangan Rp 8.064 per kilogram. Dibandingkan awal Maret terjadi penurunan harga relatif kecil, yakni Rp 82 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga rata-rata di pekan pertama Januari, yaitu Rp 7.970 per kg.
”Kenaikan harga beras karena faktor musim hujan,” kata Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Syahrul R Sempurnajaya.