Impor Beras 2,25 Juta Ton

Kompas.com - 28/03/2012, 02:39 WIB

Jakarta, Kompas - Perum Bulog tahun ini diprediksi tidak akan mampu memenuhi target pengadaan beras dari produksi dalam negeri sebanyak 4,5 juta ton. Sekalipun impor beras bukan sebuah keinginan, kebutuhan beras impor tahun 2012 diperkirakan sekitar 2,25 juta ton.

Pandangan ini dikemukakan secara terpisah oleh para pengusaha penggilingan padi serta pedagang beras dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).

Menurut Ketua Umum KTNA Winarno Tohir, Selasa (27/3) di Jakarta, kemampuan maksimal pengadaan beras Bulog dari dalam negeri tahun ini hanya 1,8 juta ton sampai 2,25 juta ton atau antara 40 persen dan 50 persen. Padahal, kebutuhan beras Bulog untuk stabilisasi harga, beras untuk rakyat miskin (raskin), dan cadangan beras nasional ataupun pemerintah sampai 4,5 juta ton.

Rendahnya pengadaan beras Bulog tak lain karena terimbas tingginya harga beras. ”Kalau harga BBM tidak naik, masih mungkin Bulog bisa menyerap hingga 3,15 juta ton atau 70 persen dari target. Dengan BBM naik, tidak akan bisa,” kata Winarno.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras DKI Jakarta Nellys Soekidi mengungkapkan, sekalipun harga pembelian pemerintah dinaikkan, tidak ada jaminan Bulog bisa memenuhi target. Karena yang menjadi rival utama Bulog adalah pedagang.

Pilihan satu-satunya adalah dengan memproduksi beras sebanyak-banyaknya agar surplus produksi cukup untuk menstabilkan harga di pasar. Nellys mengakui produksi beras pada 2012 lebih baik dari tahun 2011, tetapi itu belum cukup.

Indikatornya jelas. Di Jawa Timur, misalnya, panen sudah hampir habis. Begitu pula di Sragen, Jawa Tengah. Pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Billy Haryanto, menyatakan, pihaknya kesulitan membeli beras. ”Kalau panen melimpah, saya bisa menyetok 3.000 ton, sekarang hanya bisa 1.000 ton,” ujarnya.

Karena produksi belum mampu membanjiri pasar, beras menjadi rebutan. Pedagang beras di Demak, Jawa Tengah, mencari beras sampai Jawa Timur. Begitu pula pedagang dari Sragen.

Peningkatan pasokan di daerah sentra ternyata belum mampu menurunkan harga beras secara signifikan. Di sejumlah daerah, harga beras justru masih bergerak naik. Per 22 Maret harga beras medium hasil pantauan Kementerian Perdagangan Rp 8.064 per kilogram. Dibandingkan awal Maret terjadi penurunan harga relatif kecil, yakni Rp 82 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga rata-rata di pekan pertama Januari, yaitu Rp 7.970 per kg.

”Kenaikan harga beras karena faktor musim hujan,” kata Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Syahrul R Sempurnajaya. (MAS/ENY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau