SUKABUMI, KOMPAS -
”Bagi peternak, kenaikan harga BBM berdampak pada kemungkinan membengkaknya biaya operasional. Komponen yang paling terdampak adalah harga pakan. Namun, kami belum tahu apakah produsen pakan akan menaikkan harga seiring dengan kenaikan harga BBM,” kata Madroik Abdul Hamid, peternak ayam kampung di Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi, Jabar, Selasa (27/3).
Hamid menuturkan, harga dedak untuk campuran pakan bersama olahan jagung pabrikan sudah naik sejak akhir 2011. Saat ini, harga dedak Rp 2.500 per kilogram. Sebelumnya masih
Pakan termasuk komponen yang besar dalam biaya peternakan ayam kampung secara intensif. Modal untuk menjalankan pola peternakan dengan cara pengandangan, dan asupan makan serta gizi yang teratur itu mencapai Rp 21.000 per ekor.
”Untuk melindungi peternak dari fluktuasi harga, kami sudah menetapkan harga jual terendah, yaitu Rp 26.000 per kilogram. Tengkulak saat ini banyak yang mencoba mendekati dengan menawar Rp 23.000 per kilogram. Namun, tawaran itu terpaksa kami tolak,” kata Ade Zulkarnain, Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia.
Para motoris
Kemarin, pasar-pasar tradisional di Kota Medan sepi pembeli saat terjadi demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM. Sejumlah pedagang mengeluh penjualan turun 50 persen dibandingkan dengan hari biasa.
Agustian (28), pedagang daging sapi di los lantai 1 Pusat Pasar, Medan, mengatakan, dua hari terakhir penjualan daging sapi anjlok 60 persen. Bahkan di los daging tidak seorang pembeli pun datang. ”Makin sepi saja dagangan kami. Dulu kami setiap hari memotong satu ekor sapi, setahun terakhir jadi empat ekor seminggu. Mungkin setelah ini jadi tiga ekor seminggu,” ujar Agustian.