Dampak kenaikan harga bbm

Peternak Ayam Mulai Cemaskan Kenaikan Harga Pakan

Kompas.com - 28/03/2012, 02:52 WIB

SUKABUMI, KOMPAS - Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak membuat peternak ayam di Sukabumi, Jawa Barat, dan pengemudi speedboat di Balikpapan, Kalimantan Timur, khawatir dengan harga pakan dan tarif speedboat yang akan ikut terpacu naik. Kondisi itu diyakini memberatkan mereka.

”Bagi peternak, kenaikan harga BBM berdampak pada kemungkinan membengkaknya biaya operasional. Komponen yang paling terdampak adalah harga pakan. Namun, kami belum tahu apakah produsen pakan akan menaikkan harga seiring dengan kenaikan harga BBM,” kata Madroik Abdul Hamid, peternak ayam kampung di Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi, Jabar, Selasa (27/3).

Hamid menuturkan, harga dedak untuk campuran pakan bersama olahan jagung pabrikan sudah naik sejak akhir 2011. Saat ini, harga dedak Rp 2.500 per kilogram. Sebelumnya masih Rp 1.500 per kg. Itu masih harus ditambah dengan pakan pabrikan seharga Rp 5.200 per kg.

Pakan termasuk komponen yang besar dalam biaya peternakan ayam kampung secara intensif. Modal untuk menjalankan pola peternakan dengan cara pengandangan, dan asupan makan serta gizi yang teratur itu mencapai Rp 21.000 per ekor.

”Untuk melindungi peternak dari fluktuasi harga, kami sudah menetapkan harga jual terendah, yaitu Rp 26.000 per kilogram. Tengkulak saat ini banyak yang mencoba mendekati dengan menawar Rp 23.000 per kilogram. Namun, tawaran itu terpaksa kami tolak,” kata Ade Zulkarnain, Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia.

Para motoris speedboad di Kota Balikpapan mendesak pemerintah membatalkan rencana kenaikan harga BBM. Pasalnya, bakal terjadi efek berantai dari kenaikan harga BBM. ”Masih ada sisa waktu untuk membatalkan rencana tersebut,” kata Syarif, motoris.

Kemarin, pasar-pasar tradisional di Kota Medan sepi pembeli saat terjadi demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM. Sejumlah pedagang mengeluh penjualan turun 50 persen dibandingkan dengan hari biasa.

Agustian (28), pedagang daging sapi di los lantai 1 Pusat Pasar, Medan, mengatakan, dua hari terakhir penjualan daging sapi anjlok 60 persen. Bahkan di los daging tidak seorang pembeli pun datang. ”Makin sepi saja dagangan kami. Dulu kami setiap hari memotong satu ekor sapi, setahun terakhir jadi empat ekor seminggu. Mungkin setelah ini jadi tiga ekor seminggu,” ujar Agustian. (WSI/HEN/PRA/HEI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau