Rp 7,8 Triliun Tak Selesaikan Masalah Kemiskinan di Desa

Kompas.com - 28/03/2012, 10:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat transportasi dari Universitas Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno menilai, dana pembangunan infrastruktur pedesaan yang diputuskan sebesar Rp 7,883 triliun oleh Badan Anggaran DPR dan Pemerintah, Selasa (27/3/2012) kemarin, tidak akan menyelesaikan masalah kemiskinan di pedesaan.

"Kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi Rp 7,883 triliun untuk infrastruktur desa hanya membuat 9 bulan rakyat bekerja pada proyek padat karya. Tapi selanjutnya tak selesaikan masalah kemiskinan di desa," sebut Djoko kepada Kompas.com melalui pesan singkat, Rabu (28/3/2012).

Djoko mengemukakan, agar dana pembangunan infrastruktur pedesaan tersebut efektif harusnya disertai dengan pengadaan sarana angkutan pedesaan. Sarana angkutan ini harus mendapatkan subsidi BBM sehingga ongkosnya transportasinya tetap murah.

Dikatakannya, sarana transportasi desa yang memadai penting peranannya untuk mengangkat kesejahteraan petani. "Hasil panen bisa tak terangkut ke kota, karena ongkos transportasi mahal," tambah dia.

Ia memberi contoh, ketika harga cabai sempat mencapai Rp 100.000 per kilogram di tingkat konsumen seperti yang pernah terjadi pada awal tahun 2011, petani di lereng Gunung Merapi hanya mampu menjual Rp 25.000 saja. Selisih harga justru habis di ongkos transportasi dan keuntungan buat tengkulak dan pedagang di kota.

"(Jadi) saatnya pemerintah memperhatikan sarana transportasi desa, bukan hanya membangun jalan desa," pungkas Djoko.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau