Nazaruddin Mengaku Tak Tahu Jadi Buronan

Kompas.com - 28/03/2012, 15:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Selain mengaku tidak tahu menahu soal proyek wisma atlet SEA Games, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, mengaku tidak pernah merasa sebagai buronan kepolisian internasional. Nazaruddin yang menjadi terdakwa kasus suap wisma atlet SEA Games 2011 itu mengaku ke luar negeri dalam rangka urusan bisnis.

Hal itu diungkapkan Nazaruddin saat diperiksa sebagai terdakwa dalam persidangan kasus dugaan suap wisma atlet SEA Games yang berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (28/3/2012). "Saya berangkat ke luar negeri tanggal 23 Mei 2011," kata Nazaruddin. Selama kurang lebih tiga bulan melarikan diri ke luar negeri, Nazaruddin tertangkap Interpol di Cartagena, Kolombia, Amerika Selatan, pada 7 Agustus 2011 lalu.

Dalam persidangan hari ini, Nazaruddin mengungkapkan dia menjelajah sejumlah negara tanpa tahu kalo dirinya menjadi buron KPK. Negara yang disinggahi Nazaruddin antara lain Malaysia, Dubai, hingga ke Kolombia.

"Tahu dicari interpol?" tanya anggota Majelis Hakim Herdi Agustein.

"Tidak tahu," jawa Nazaruddin.

"Saya dibawa dari Cartagena ke Kolombia, saya putuskan untuk pulang, sebenarnya kalau mau enggak pulang juga bisa," ucap Nazaruddin.

Selama menjelajah negara-negara itu, Nazaruddin mengaku ditemani istrinya, Neneng Sri Wahyuni, yang juga menjadi tersangka kasus dugaan korupsi itu.

Hakim Herdi tampak tidak percaya dengan keterangan Nazaruddin yang mengaku tidak tahu kalau dirinya ditetapkan sebagai buronan interpol. Herdi lantas menanyakan komunikasi jarak jauh Nazaruddin melalui Skype yang dilakukan dalam masa pelariannya itu.

"Sebelum di Cartagena, konpres (konferensi pers) dengan topi, itu berada di mana? Tahu ngak waktu itu lagi dicari?" tanya Herdi. Nazaruddin bersikukuh tidak tahu kalau saat itu dirinya tengah dicari-cari interpol.

"Saya tahu waktu itu ada pertemuan antara Anas dan pimpinan KPK, bahwa semua diarahkan ke Nazar. Saya buka semua yang lama-lama, biar semua orang tahu," ucapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau