Dukuh Sleman Tak Akan Salurkan BLSM

Kompas.com - 29/03/2012, 04:58 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Paguyuban Dukuh Kabupaten Sleman Cokropamungkas berencana tidak akan menyalurkan program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) pada warga miskin, namun akan menggunakannya untuk program kerja padat karya.

Sikap tersebut disampaikan Ketua Paguyuban Dukuh Sleman dan Ketua Terpilih Paguyuban Dukuh DIY Semar Sembogo Sukiman Hadi Wijoyo dalam rapat kerja bulanan di Kantor Desa Sidomoyo, Godean, Sleman, Rabu (28/3/2012), yang juga dihadiri ketua peguyuban Dukuh Kulonprogo dan Gunungkidul.

Menurut Sukiman pemberian BLT atau BLSM langsung kepada warga miskin, hanya akan mengadu-domba dukuh dengan warganya. "Pengalaman 2009 lalu, beberapa dukuh di Sleman harus adu mulut dengan warga sendiri karena ada beberapa keluarga miskin yang tidak masuk daftar penerima BLT, sementara ada warga yang tidak terlalu miskin justru masuk daftar penerima," kata Sukiman.

Sukiman menambahkan data rumah tangga miskin yang digunakan Pemerintah Pusat didasarkan pada sensus Badan Pusat Statistik (BPS) yang menurutnya tidak valid dan tidak sesuai dengan jumlah dan kriteria warga miskin yang ditentukan Pemkab Sleman.

"Setiap ada pendataan baru, pasti ada yang tidak puas. Ujung-ujungnya dukuh dituding pilih kasih dan selalu menjadi sasaran protes warga yang tidak menerima bantuan," kata Sukiman.

Menurut Sukiman kompensasi kenaikan harga BBM, jika nanti ada, lebih baik diwujudkan dalam bentuk kegiatan padat karya, atau bisa juga dialihkan menjadi bantuan modal secara kolektif untuk kegiatan pemberdayaan ekonomi. "Nanti kami akan mengganti program penyaluran dana BLSM bukan pada per keluarga miskin, tapi akan diwujudkan pada program padat karya seperti pengerasan jalan, pembuatan talud atau semacamnya," ujar Sukiman.

Hal yang sama juga dikatakan Ketua Paguyuban Dukuh Kulonprogo Madu Koro Mugiyatno. Menurutnya, penyaluran BLSM secara langsung pada warga miskin memang sudah tidak relevan untuk kondisi saat ini. Lebih baik jika dialihkan untuk kegiatan padat karya. "Kami akan mengusahakan agar dana BLSM itu untuk pembangunan drainase dusun atau bersih-bersih sungai. Jadi hanya mereka yang bekerja yang mendapatkan dana BLSM, " kata Mugiyatno.

Mugiyatno menambahkan, simpang-siurnya data tentang warga miskin versi BPS dan kriteria warga miskin versi pemerintah kabupaten sering menjadi sumber masalah di lapangan. Di Sleman sendiri, Sekretaris Daerah Sleman Sunartono pernah mengatakan data warga miskin BPS masih terpaku pada daftar tahun 2008 yang tercatat 168.158 jiwa. Sedangkan data warga miskin Kabupaten Sleman mencapai 163.000. Dari dua data ini hanya 40.000 orang yang datanya sesuai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau