Dahlan Iskan Bikin Pejabat Daerah "Jantungan"

Kompas.com - 29/03/2012, 09:24 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Tindakan Menteri BUMN Dahlan Iskan memang tidak ada yang bisa menebak. Hanya Tuhan dan dia sendiri yang tahu. Kata itu keluar dari seorang pejabat Kulon Progo yang terkejut dengan aksi mantan Dirut PLN tersebut saat kunjungan kerja ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Hebat, sampai saya enggak tahu apa yang akan dilakukan lagi," kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo Bambang Tri Budi, Kamis (29/3/2012).

Komentar Bambang itu terungkap saat menyaksikan Dahlan Iskan, yang sedianya hanya akan melihat pengemasan beras di Gabungan Kelompok tani (Gapoktan) Panca Manunggal, Sogan, Wates, tiba-tiba langsung memanjat tangga untuk menyaksikan langsung proses penggilingan padi. Sontak pejabat Pemerintah Kabupaten Kulon Progo terkaget-kaget.

Tempat penggilingan yang diperiksa Dahlan merupakan gapoktan penyuplai beras untuk pegawai sipil (PNS) di Kulon Progo. "Saat ini penyerapan beras PNS di Kulon Progo mencapai 6,7 ton per bulan. Untuk sementara, beras kemasan lima kilogram ini dikonsumsi kalangan PNS, ke depannya dipasarkan di supermarket," kata Bambang.

Sementara, menurut Dahlan, produksi beras dapat dipasarkan langsung ke masyarakat umum. "Salut, kami akan terus mendukung peningkatan produksi padi di Kulon Progo," tegas Dahlan. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau