Kudus, Kompas -
Gol pertama ”Macan Muria”, julukan Persiku, diciptakan penyerang tengah asal Cile, Alejandro Tobar, pada menit ke-27 setelah memanfaatkan bola liar di dalam kotak penalti PSIM. Tendangan keras Tobar yang mengarah ke tengah gawang tidak mampu diantisipasi penjaga gawang PSIM Yogyakarta, Dedi Haryanto.
Peter M Kuoh memperbesar kemenangan Macan Muria setelah menerima umpan pendek dari Tobar saat dia berada dalam kotak penalti lawan.
Tendangan penyerang Persiku Kudus asal Liberia yang sempat dikawal ketat pemain lawan itu kembali memaksa Haryanto memungut bola dari gawangnya untuk kedua kali. Gol itu terjadi hanya berselang dua menit setelah babak kedua dimulai.
Laga sempat memanas ketika beberapa pemain berupaya saling menjatuhkan saat berebut bola. Puncaknya terjadi saat pemain belakang PSIM Yogyakarta, Topas Pamungkas, terjatuh sembari memegangi kepala bagian belakang akibat lemparan benda keras dari pendukung Persiku.
Hal itu menyebabkan para pemain saling dorong dan saling menyalahkan. Sejumlah pemain Persiku berupaya meminta pendukung agar tidak mengganggu jalannya pertandingan. Insiden itu membuat pertandingan berhenti sekitar 4 menit.
Pelatih PSIM Hanafing mengatakan, PSIM memang kalah. Namun, kekalahan tersebut bukan secara teknik, melainkan mental pemain PSIM yang melorot akibat tekanan penonton dan kepemimpinan wasit.
”Terkait dengan salah satu pemain yang terkena lemparan, kami akan melaporkan kejadian tersebut secara tertulis ke Badan Liga Indonesia,” katanya.
Pelatih Persiku Riono Asnan mengemukakan, Macan Muria bermain optimal dan bersemangat. Mereka mempunyai motivasi untuk menang setelah dikalahkan PSIM, 3-1, pada putaran pertama beberapa waktu lalu.
”Hasil ini menjadi bekal dan semangat Persiku untuk menghadapi Persebaya Surabaya tanggal 3 April nanti,” katanya.