Jelang 2014, Golkar Makin Pede dari Demokrat

Kompas.com - 01/04/2012, 05:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, kini nampak percaya diri dengan melihat partainya yang dinilai semakin populer dan mendapat dukungan besar dari masyarakat dibanding partai-partai besar lainnya. Hal ini ia katakan setelah melihat sejumlah survei yang menunjukkan Partai Golkar menapaki posisi teratas dibanding partai lain, termasuk dari Demokrat, partai besutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Tidak salah pula jika berbagai survei akhir-akhir ini memang menunjukkan bahwa Partai Golkar sudah berada pada posisi teratas, nomor satu," ujar pria yang akrab dipanggil Ical itu, di hadapan ratusan kadernya di DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Sabtu (31/3/2012) malam.

Tak hanya percaya diri terhadap posisi partai di mata masyarakat, Ical juga masih optimistis partainya akan menang di Pemilihan Umum 2014. Apalagi saat ini, namanya tengah dipersiapkan partai berlambang pohon beringin itu untuk menjadi bakal calon presiden nantinya.

"Insya Allah, kita akan merebut kembali kejayaan partai. Padi sudah mulai menguning, rawatlah baik-baik, sehingga nanti pada saatnya panen raya di 2014 kelak," tuturnya.

Sementara itu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI dari Fraksi Golkar, Mahyudin mengungkapkan, Partai Golkar akan berusaha semaksimal mungkin agar menang dan memberikan kursi kepresidenan untuk Ical. Ia meminta agar semua kader yang ingin memajukan partainya tidak mengkhianati Golkar dan beralih ke partai lain.

"Kita sudah kalah 3 kali dalam Pemilu. Keempat enggak boleh lagi. Pemilu 2014 harus dimenangkan Partai Golkar dan Ical jadi Presiden memimpin bangsa ini," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau