Demi Anak, Nadya Suleman Rela Difoto Bugil

Kompas.com - 01/04/2012, 23:40 WIB

KOMPAS.com - Menjadi single parent bukan pilihan yang mudah bagi siapapun, tak terkecuali perempuan. Maka, kaum perempuan pasti tak habis pikir  mengapa ada seorang perempuan yang memilih untuk membesarkan 14 anaknya seorang diri seperti Nadya Suleman.

Perempuan asal La Habra, California, ini menjadi perbincangan dunia internasional ketika melahirkan anak kembar delapan pada tahun 2009. Delapan anak kembarnya ini menjadi kembar delapan kedua yang berhasil hidup seluruhnya di Amerika. Keempatbelas anaknya dilahirkan melalui program bayi tabung karena Nadya tidak mempunyai pasangan. Ia juga tidak bekerja sehingga mengandalkan hidup dengan tampil di acara-acara televisi yang ingin mewawancarainya, serta menerima bantuan dari pemerintah.

Perempuan berusia 36 tahun ini sebenarnya pernah menikah pada tahun 1996, namun bercerai empat tahun kemudian karena tidak kunjung hamil. Sang suami tidak menyetujui niat Nadya untuk melakukan program bayi tabung. Setelah bercerai, Nadya menjalani sendiri program bayi tabung itu dari donor sperma. Semua anaknya, kabarnya juga dihasilkan dari donor sperma yang sama.

Baru-baru ini, Nadya kembali menjadi berita karena menerima tawaran foto telanjang dengan majalah Inggris Closer. Ia berpose hanya dengan celana dalam sewarna kulit, dengan satu tangannya menutupi area payudaranya. Meskipun sudah melahirkan enam kali, tubuhnya masih langsing seperti sebelum hamil. Perempuan yang dijuluki Octomom ini tak malu-malu mengakui bahwa ia melakukannya karena butuh uang.

"Anda tahu berapa honor saya?" katanya saat diwawancara Anderson Cooper dalam talkshow-nya, Anderson, Jumat (30/3/2012) lalu. "Aku dibayar 8.000 dollar. Aku harus melakukannya karena aku harus mengurus keluargaku, dan aku tidak malu. Aku tidak malu sama sekali. Toh aku tidak pernah mengorbankan moral dan nilai-nilai kehidupanku."

Ia juga tidak menganggap bahwa foto-fotonya yang nyaris telanjang (hanya mengenakan celana dalam) itu agak cabul. "Aku kan masih ditutupi," kilahnya, sambil menambahkan bahwa ia sudah membahas rencana tersebut dengan anak-anaknya. "Jujur saja, aku melakukannya untuk uang."

Pada Cooper, Nadya mengaku kesulitan melakukan pembayaran hipotek untuk rumahnya yang bobrok di La Habra, bahkan harus keluar dari rumah itu. Namun ia berusaha keras agar anak-anaknya bisa hidup dengan layak di rumah tersebut.

"Aku tak merasa pantas membebani anak-anak dengan tekanan semacam itu," paparnya. "Aku berusaha sebaik-baiknya memberikan kehidupan bagi mereka setiap hari, sebahagia mungkin. Kami bermain bersama, menikmati momen-momen yang kami miliki bersama, hanya itu yang penting."

Oleh karena itu Nadya, yang drop out dari program master di California State University, Fullerton, merasa tak menyesal difoto telanjang. Ia mengaku lebih baik difoto telanjang untuk sebuah majalah daripada telanjang di hadapan pria yang tidak berniat serius dengannya. Katanya, perempuan harus benar-benar cinta dengan seorang pria sebelum menyerahkan tubuhnya pada pria tersebut. Mengenalnya selama beberapa bulan saja tidak cukup.

Karena kepopulerannya, perempuan yang hidup selibat selama 13 tahun ini mengaku banyak mendapat perhatian dari para pria. Hanya saja, ia belum berniat berkencan lagi sampai anak-anaknya mencapai usia 18 tahun (saat ini anak sulungnya masih berusia 10 tahun).

"Aku hidup untuk mereka saat ini. Aku bukannya tak menginginkan hubungan di masa depan. Tapi untuk saat ini, ketika pria menatapku, aku akan memalingkan muka, sehingga mereka sadar untuk tidak mendekatiku. Aku tahu aku cantik, aku tidak butuh seorang pria untuk memberitahuku soal itu."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau